19 Zulhijjah 1440 H

1,093 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini


Oleh: Dwiwap.com

Insyaallah kapan-kapan akan penulis bahas satu persatu 4 pertanyaan dalam link berikut ini.
https://blog.dwiwap.com/para-penyembah-kuburan/

Sebelum membahas dan menjawab 4 pertanyaan di sertai dalil atas ke empat pertanyaan tersebut, penulis biasa ingin bercerita dahulu.

Penulis telah membuktikan dengan mata kepala sendiri apa yang penulis tulis dalam link atau artikel yang berjudul PARA PENYEMBAH KUBURAN, semua itu kenyataan bukan bualan atau omong kosong atau dalam rangka iri-dengki. Kalau pembuktian yang dahulu-dahulu mungkin hanya melihat di lakukan beberapa orang seperti berdo’a di kuburan ketika mau punya hajat seperti menikahkan anaknya atau punya hajat sejenisnya ketika ziarah ke makam para wali, namun kali ini pembuktian yang  lebih kuat.

Singkat cerita penulis masuk kedalam sebuah desa atau menyusup dengan pura-pura menjadi ahli bid’ah dahulu, desa yang penulis kunjungi tersebut sangat pelosok di salah satu kabupaten di Indonesia yaitu sekitar propinsi jawa barat. Sudah sejak lama kuduga bahwa tidak sedikit masyarakat dalam desa-desa kebanyakan awam dan condong taqlid buta. Mereka condong mengikuti tapi tidak melihat dasar dan alasan yang di ikuti, prinsip mereka yang penulis tahu’ mayoritas yaitu yang penting ngikutin pendahulu mereka, seperti orang tua mereka, guru-guru mereka, kiay mereka  dan sejenisnya. Meskipun mungkin yang di ikuti loncat dari tower pemancar yang tertinggi akan di ikuti. Maap bukan melebih-lebihkan tapi ini perumpamaan. Dan inilah sebagian yang saya maksud pembodohan atau bodohin diri.

Tujuan penulis ikut acara ritual bid’ah tersebut hanya mengorek atau rasa ingin tahu saja. Untuk menambah pengetahuan dan wawasan saja. Bukan untuk dalam rangka ingin punya ide membuat artikel/untuk mengurusi amalan kesesatan mereka. Dan juga tujuan penulis untuk memotivasi para ustadz-ustadz dakwah tauhid dan sunnah supaya tidak fokus berdakwah/ceramah di tempat yang ada amplopnya saja atau ada sumbangan kotak amal saja, atau supaya tidak fokus dakwah di tempat-tempat yang di undang saja seperti di masjid, di majelis taklim, atau yang hanya bisa kesorot kamera saja, tapi penulis memotivasi khususnya untuk ustadz-ustadz yang cerdas, yang daya ingat, daya hafal nya kuat, daya bicaranya bagus, hafal Al-Qur’an ples terjemahannya, hafal kitab-kitab hadits, hafal berbagai kitab-kitab kuning/ulama dan sejenisnya. Maka berdakwah lah di tempat yang menantang juga seperti di pasar, di mall atau terutama masuk-masuk ke plosok-plosok desa yang terpencil karena di sana tidak ada ustadz nya yang benar-benar nguasai ilmu islam yang tinggi, kebanyakan ustadz-ustadz di kampung-kampung itu tidak tau apa-apa. Karena mayoritas asal bisa jadi imam sholat, bisa mimpin tahlilan, bisa mimpin yasinan dan berbagai amalan bid’ah sejenisnya, mereka panggil ustadz. Bahkan yang lebih parah dukun berkedok kiay/ustadz-pun mereka panggil ustadz. Kalau penulis memang bukan ustadz walaupun berbicara nya seperti ustadz. Penulis hanyalah seorang ”baca di propil”😊🙏.

Jangan dengarkan ustadz Yazid Abdul Qodir Jawas beliau salah satu senior ustadz manhaj salaf atau salafi di Indonesia yaitu yang dalam ceramahnya yang ketika tanya Jawab  beliau mengharuskan dakwah itu di masjid karena alasan pasar, mall tempatnya setan, dan dakwah di masjid di hadiri malaikat, semua itu dasarnya hadits, penulis tidak  mengingkari. Namun semua itu tidak bisa untuk di jadikan alasan untuk tidak dakwah di mall, pasar dan sejenisnya ada caranya dan tehnik nya semua ini hanya bisa di lakukan ustadz yang cerdas, ustadz yang memiliki jiwa pemberani, suka dengan hal-hal yang berbau tantangan, memiliki kelebihan harta, tidak pelit, tidak perhitungan dan sejenisnya, jika itu tidak bisa masih ada cara yang lainnya seperti masuk-masuk ke plosok desa, dan sejenisnya. Jika fokus dakwah di masjid, yang menghadiri hanya orang-orang yang dapat informasi saja. Tapi yang tidak tahu maka selamanya tidak tahu, dari itu untuk anda para ustadz yang di beri harta lebih, ilmu islam lebih, kecerdasan lebih, dan punyak teknik ahlaq penyampaian yang lebih berdakwah lah di tempat yang menantang juga. 

Lanjut cerita tepatnya hari kamis 13 juni 2019 malam jum’at, penulis berkunjung kesebuah desa yang lumayan pelosok untuk ikut acara yang di rutinkan oleh masyarakat desa tersebut. Yaitu acara ritual bid’ah tawassulan , acara tersebut mereka awali pembacaan sholawat nabi yang mereka buat seperti sholawat nariyah atau sholawat apa gitu, pokok nya intinya sholawat buatan manusia yang tidak di contohkan oleh Allah dan rasul-nya dan di iringi salam-salaman dan saling menempel kan pipi samping kiri-kanan, nyiumin tangan ke yang mereka anggap sesepuh/ustadz nya. Ada yang nyium tangan di bolak balik.

Penulis tidak langsung ikut salaman, penulis nyaksikan salaman tersebut dahulu, karena penulis tidak mau ikut salam-salaman tradisi muter-muter atau keliling karena penulis tidak biasa salaman dengan salaman berlebihan/gulluw, akhirnya pas salaman muter/keliling sudah mau selesai atau dapet separo penulis langsung lkut berdiri saja jadi tidak ikut salaman keliling yang sebagaimana menyalami sesepuhnya atau para ustadznya, dan setelah itu di teruskan dengan pembacaan kata sambutan dan ceramah-ceramah ngelawak atau ceramah nyeleneh tidak nyebutin dalil dan para jamaahnya pun di buat tertawa-tawa terbahak-bahak. Yang jelas dakwah/ceramah itu membahas Qur’an dan sunnah. Kecuali menulis. Bercanda sedikit tidak apa-apa namun jangan nyampe candaan itu mematikan hati bukan menghidupkan hati.

Penulis liat dengan mata kepala di tengah-tengah jamaah ada beberapa makam dan ada yang di keramatkan dan makam yang mereka anggap keramat tersebut mereka tutupi kain putih berbentuk kotak seperti ka’bah, dan para jamaahnya-pun rata-rata membawa air dari rumahnya di botol, curigen dan sejenisnya untuk di tarok di makam tersebut, dengan mengharap atau meyakini akan mendapatkan berkah dan karomah dari makam tersebut.

Kebetulan malam itu mereka menyebut malam Jum’at kliwon, mereka meyakini ada kelebihan di malam-malam jum’at kliwon tersebut. Penulis liat yang datang terlambat untuk mengikuti acara tersebut sangat banyak yang berdatangan membawa air. Yang datang terlambat-pun tidak kalah serunya dengan yang datang duluan yaitu bersalaman cium tangan kepada yang mereka anggap sesepuh atau yang mereka segani.

Penulis yang mengikuti dengan terpaksa, beristighfar berulangkali sambil mengucapkan maafkan ya Allah saya terpaksa mengikuti semua ini dan penulis juga bertanya-tanya dalam hati menyaksikan ritual ibadah yang mereka lakukan, penulis berkata dalam hati, inikah ibadah yang engkau ridhoi ya Allah, inikah ibadah yang di contohkan Rasullullah dan engkau perintahkan ya Allah, jika tidak di contohkan Rasullullah, tidak engkau perintahkan dan tidak engkau ridhoi kenapa ini berjalan terus tidak engkau musnahkan ya Allah dan seterusnya. Intinya nggrunjel dalam hati.

Ternyata setelah penulis telaah dan ingat-ingat penulis pernah membaca Al-Qur’an ples terjemahannya dan penulis jumpai Qs yang berkaitan dengan hal tersebut. Kenapa Allah membiarkan mereka asik dengan ibadah sesatnya? Apa berarti Allah meridhoinya.? dan apa berarti Allah merestuinya.? Terkait semua ini Allah berfirman dalam beberapa Qs yang artinya:

1. Surat 7 ayat 186.
186. Barangsiapa yang Allah sesatkan[165], Maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.

[165] Disesatkan Allah berarti: bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. dalam ayat ini, karena mereka itu ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, Maka mereka itu menjadi sesat.

2. Surat 39 ayat 36 – 37.
36. Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. dan mereka mempertakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah? dan siapa yang disesatkan Allah Maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya.
37. dan Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab?

3. Surat 2 ayat 269
269. Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).

Dan hal tersebut tidak hanya terjadi di desa-desa pelosok, semua itu juga masih banyak di jumpai di kota-kota besar Jakarta, sekitarnya dan kota-kota besar lainnya, mereka bangun makam seindah mungkin di dalam masjid/ di ruangan halaman masjid. Dan sebagian di makam-makam yang mereka anggap keramat/karomah mereka bangun rumah kecil berbentuk masjid untuk mempermudah berdo’a mengharap karomahnya.

Lanjut singkat cerita, penulis tidak mengikuti acara tersebut hingga selesai, acara tersebut mulai sekitar jam 7 malam kurang 15 menitan, seperti yang penulis ceritakan di atas, mereka sesepuhnya mengawali berdiri di lokasi tawasulnya di ikuti para jamaah-nya mungkin maksudnya menyambut makom karomah tersebut yang di iringi pembacaan sholawat buatan manusia biasa yang tidak di contohkan oleh Rasulullah.

Beberapa saat kemudian datang waktu isya’ mereka hentikan sejenak untuk adzan, setelah adzan selesai, salah satu tim ustadz nya/sesepuh nya berdiri melanjutkan kata sambutannya, beliau bilang kalau ada acara begini kita laksanakan dulu yang acara begini ” acara tawassul tersebut maksutnya”, mungkin sholat isya mereka kerjakan setelah selesai pembacaan yasin fadillah atau acara selesai, berarti mereka lebih ngutamakan acara bid’ah tersebut ketimbang yang wajib. Penulis sering mengatakan dalam setiap tulisan cerita kritikan bahwa bid’ah mematikan yang wajib dan sunnah ini semua kenyataan.

Akhirnya pas kata sambutan sudah selesai, ganti ustadz lainnya untuk berceramah yang penulis bilang ngelawak/nyeleneh diatas, karena penulis tidak suka dengan dakwah yang berbau bodohin akhirnya penulis tidak ikut nyimak ceramah tersebut hingga tuntas, lagi pula ceramahnya menggunakan bahasa sunda penulis kurang begitu suka/srek dengan bahasa daerah meskipun itu bahasa jawa, namun kalau hanya buat selingan tidak apa-apa. Dan perlu anda ketahui penulis orangnya netral cukup islam, tidak mengklaim bergolongan ini-itu, tidak mengklaim bermazab ini-itu, tidak mengklaim ikut kelompok ini-itu, tidak mengklaim bermanhaj ini-itu. Jadi penulis dengarkan semua dakwah dari A hingga Z, karena setiap ceramah tidak semua nya benar dan tidak semua salah, dalam dakwah ustadz ahli bid’ah tidak semuanya yang mereka ceramah kan berbau syubhat dan bid’ah, dalam ceramah ustadz ahli sunnah juga tidak semua sepaham dalam mentelaahnya. Jadi semua itu tidak akan penulis telan mentah-mentah.

Namun untuk anda yang belum mampu membedakan mana syubhat dengan tidak-nya jangan sesekali terjun dalam lingkungan bid’ah seperti penulis, dengan alasan mau dakwahi mereka, anda tidak bisa berkutik jika anda sendirian anda berani mengatakan bid’ah terang-terangan di tengah-tengah banyaknya orang taqlid buta, itu membahayakan diri anda sendiri, dan bisa-bisa juga anda terkena subhatnya maka anda lambat laun akan kejebak mereka akhirnya anda tertarik, terkesimak, seperti kebanyakan mereka bilang ke penulis ”kalau mereka sesat kok mereka adem tentram damai dan seterusnya dan meninggalnya ada yang hari Jum’at dan bau wangi” inilah syubhat ini bisa membuat anda menjadi ahli bid’ah kembali. Namun penulis tidak menganjurkan anda fanatik dan menutup diri dari ide/opini yang di luar yang anda ketahui, anda tetep penulis sarankan dengerin juga ceramah-ceramah di luar yang sepaham/di luar golongan anda, namun anda harus bisa memilih mana yang ilmiah dengan yang tidak ilmiah.

Lanjut ceritanya, namun ternyata kehadiran penulis sudah agak di curigai oleh beberapa jamaahnya, karena mungkin melihat penulis kok agak tegang tidak seperti jamaah lainnya, penulis liat memang ada beberapa jamaahnya yang merhatiin dan bisik-bisik dengan sampingnya, karena kebetulan penulis nyolong foto via hape, sudah gitu waktu kedatangan juga ada beberapa yang melihat motor Vixion penulis yang kebetulan masih baru hehe jadi pamer atau riya’ nih, mereka ada yang bertanya, motor ini berapa cc mas, penulis jawab 155cc, harganya brapa mas, penulis jawab 29 juta 500rb, sambil mereka lihat-lihat, kebetulan di flat motor depan, penulis tempelkan stiker radio Rodja, tapi sebagian tidak tau-menau tentang rodja, namun penulis liat ada yang tau salah seorang ustadz nya, namun mereka tidak begitu merhatiin atau fokus ke penulis. Ini juga kesalahan teknis, penulis lupa tidak mencabut setiker rodja yang ada di motor. Namun tidak apa-apa hitung-hitung membantu dakwah Rodja, dan mudah-mudahan di antara mereka ada yang diam-diam muter radio rodja karena penasaran atau rasa ingin tahu. Dan pada akhirnya mendapatkan hidayah Sunnah. Aamiin Ya rabbal Aalamin.🤲

Kesimpulan dari cerita yang bernada kritikan ini adalah tawassul memang di perintahkan namun harus sesuai dengan Sunnah. Bukan tawassul kepada orang yang sudah mati. Mayoritas kaum muslimin salah dan gagal faham dalam memahami tawasul. Mereka bertawasul dengan orang-orang shalih yang mereka segani terdahulu yang sudah mati. Inilah yang mereka anggap sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah. Padahal hal tersebut dapat menjerumuskan mereka ke lembah kemusrikan yang tiada ketara.

Comment

tags:

Populer post