20 Ramadhan 1440 H

Tahlil vs Memberi harokat.

Kategori Kritikan
Di lihat 229 kali

24 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

PERTANYAAN :
Tahlilah dari ajaran hindu, yang bnar? klo bnr tahlilah dri ajaran hindu, kenapa dikitab Al’um karangan iman Syafi’i terdapat yang menerangkan hukum tahlilan trsebut??? dan bagaimana menurut anda tentang Al qur’an yang diberi harokat?apakah ada dalilnya juga?

JAWAB :
Terimakasih atas pertanyaannya, Dalam kitab al’umm tidak ada penjelasan tentang hukum tahlilan, yang ada hukum berkumpul-kumpul dirumah orang yang mengalami kematian, jadi bukan hukum tahlilan. Di indonesia orangnya terlalu kreatif, agar kumpul-kumpul tersebut menjadi seolah-olah sebagai amalan islam yang bagus, maka dimasukanlah bacaan-bacaan tahlil, jadilah ritual tahlilan, bukan dalam kitab al’umm ada penjelasan tentang hukum tahlilan, dan imam syafii sendiri membenci perbuatan tersebut, kok orang-orang yang mengaku sebagai pengikut imam syafii/bermazab syafii malah menyenangi dengan amalan ritual yang dibenci oleh imam syafii?. Jaka sembung bawa golok. GAK NYAMBUNG…= lanjutkan sendiri.😊🙏

Amalan yang diajarkan Rasulullah saja belum kita laksanakan semua, dan masih banyak yang belum di kerjakan, kok sempet-sempetnya menjalankan amalan yang tidak diajarkan Rasulullah ya… buang-buang tenaga dan waktu saja, dan percumah.

Mereka bilang tahlil berisikan:
1. Membaca Surat Al-Fatihah
2. Membaca Surat Yasin.
3. Membaca Surat Al-Ikhlash.
4. Membaca Surat Al-Falaq
5. Membaca Surat An-Naas
6. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 1 sampai 5
7. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 163
8. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 255 (Ayat Kursi)
9. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 284 sampai akhir Surat.
10. Membaca Istighfar
11. Membaca Tahlil
12. Membaca Takbir
13. Membaca Tasbih
14. Membaca Tahmid
15. Membaca shalawat Nabi.
16. Membaca Asma’ul Husna.
17. Membaca do’a.


PERTANYAAN :
Tasbih tahmid takbir dan tahlil masa tahlil dibilang bid’ah??

JAWAB :
=> Apa yang anda paparkan memang ibadah yang disyari’atkan dalam Islam tanpa ada keraguan di dalamnya, tetapi perlu diingat ibadah tersebut harus sesuai dengan contoh dari Nabi Muhammad Saw baik dalam perihal : tempatnya, waktunya, sebabnya, jumlah bilangannya, tata caranya, jenisnya.

=> Saya beri contoh mengkhususkan membaca yasin setiap malam jumat, pengkhususan malam jumat harus ada contoh dari Nabi dengan berdsarkan dalil yang shahih dan jelas dan ternyata tidak ada dalil yang kuat dan jelas.
Bukan membaca yasin yang bermasalah tetapi pengkhususannya pada malam Jumat yang bid’ah. Kecuali pengkhususan tersebut ada dalil yang jelas.

=> Contoh lain tahlilan di dalamnya membaca laillah haillalloh dalam jumlah bilangan tertentu, pada waktu tertentu yaitu malam ke 1 hingga 7, 40, 100 dan haul setiap tahun, dengan gerakan tertentu, dan dengan jumlah bilangan tertentu, hal² yang tertentu² ini harus ada contoh dari Nabi Muhammad dengan berdsarkan dalil yang shahih dan jelas dan ternyata tidak ada dalil yang kuat dan jelas.
Bukan membaca laillah haillalloh yang salah, bahkan ini adalah dzikir yang paling utama yang di anjurkan, tetapi pengkhususan hari, gerakan, jumlah bilangannya yang bid’ah.

=> Contoh lain maulid Nabi saw yang mungkin di dalamnya dibacakan sholawat pada hari kelahiran beliau, berkumpul² karena sebab hari kelahiran beliau, berdiri ketika mahalul qiyam dalam pembacaan sholawat ketika maulid Nabi saw, ini semua harus ada contoh dari Beliau, dengan berdasarkan dalil yang shahih dan jelas dan ternyata tidak ada dalil yang kuat dan jelas.
Bukan membaca sholawat yang keliru karena dia adalah ibadah yang disyariatkan tetapi pengkhususan ketika hari kelahiran nabi saw, jumlah bilangn tertentu, dengan tata cara tertentu yang tidak ada contohnya dari Nabi Muhammad Saw.

Dn tentang alquran diberi harakat, itu demi kemaslahatan, untuk mempermudah, bahkan jaman dahulu belum ada tanda titiknya juga, jadi huruf ba,ta,tsa,nun itu sama saja,
wong sudah diberi harakat saja masih banyak yang tidak bisa baca alquran, apalagi kalau tidak diberi harakat,
Sama saja dengan bahasa arab, jaman dahulu tidak ada pelajaran nahwu, sharaf, namun untuk memudahkan agar kaum muslimin bisa mempelajari alquran dan hadits, maka dibuatlah kaidah-kaidah bahasa arab, nahwu,sharaf. Begitu mas, semangatlah belajar, agar jadi orang yang pinter, bukan pinter mlintir kesesatan menjadi kebenaran, dan setelah itu amalkan ilmu yang sudah didapatkan. Jangan betah jadi orang awam yang di perbudak bid’ah.

Comment

0Shares
tags:

Populer post