21 Safar 1441 H

299 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini


Oleh: DWIWAP.COM

Dengan seiringnya waktu berjalan penulis amati makin banyak orang-orang yang mencari/mendapat/mau menerima hidayah Allah untuk kembali  ke islam yang kaffah/keseluruhan. Orang-orang pengikut islam golongan terbaru atau yang biasa mereka sebut ormas islam terutama dari golongan Nu, mereka yang dengki, kebanyakan menyebutnya wahabi yang mudah mengkafir-kafirkan, membid’ah-bid’ahkan dan menyesat-nyesatkan. Penulis rasa mereka terlalu berlebihan atau melebih-lebihkan/mengada-ngada. Karena mereka tersinggung karena tujuan melegalkan bid’ah atau amaliahnya yang menyimpang dari 2 pentunjuk Qur’an dan Hadits yang sahih di di luruskan.

Penulis amati sebenarnya tidak seorang pun ustadz dari manhaj salaf di rodja maupun di radio atau tv sunnah lainnya yang mengatakan seperti yang di tuduhkan oleh mayoritas pengikut islam golongan terutama Nu. Mereka hanya mengada-ngada dan sebagian hanya ikut-ikutan dan sebagian terprovokasi oleh artikel-artikel di media yang isinya berita plintiran yang di buat oleh sebagian ustadz dan orang-orang yang dengki dengan dakwah sunnah yang ilmiah.

Alhamdulillah penulis turut bersyukur berkat atas seijin Allah melalui dakwah seperti di radio rodja dan tv rodja dan radio/tv sunnah lainnya, akhirnya makin banyak membuat orang-orang mengenal sunnah dan islam yang murni. Cuma yang penulis sayangkan kepada mayoritas manhaj salaf//salafi mereka fanatik atau tidak mau tau dengan dakwah si A si B dan si C dan seterusnya. Mereka pengikut yang di sebut salafi mengklaim ahli bid’ah itu fanatik buta. Penulis setuju memang kenyataannya memang semua pengikut islam golongan itu memang mayoritas fanatik buta. Fanatik golongan, fanatik mazab, fanatik ulama ini-itu dan merasa bangga dengan kelompoknya masing-masing. Selain fanatik buta, mereka semua juga 99% taqlid buta semua.

Tetapi yang tidak penulis habis pikir ternyata penulis amati mereka yang di sebut salafi juga banyak yang terjebak fanatisme sendiri, sebagian mereka merasa pemahaman yang di dakwahkan oleh ustadz dari kalangan pengikut islam golongan salah semua, yang penulis tau mereka condong hanya mau mendengar ceramah dari kalangan ustadz yang di fens atau di ikuti di majlis ta’limnya saja. Begitu juga dengan umat islam dari pengikut islam golongan, mereka mayoritas rata-rata lebih taqlid buta sama kiay yang mereka tahu atau mereka sukai saja. Lantas jika demikian. Apa bedanya yang ngaku bermanhaj salaf dengan pengikut islam golongan? Jika sama-sama fanatik bahkan nyampe fanatik buta.


Fanatik di pengikut manhaj salaf, yang banyak penulis jumpai mereka mengatakan “kita kan sudah benar ngapain dengarin yang lain” dan ”hati-hati kena syubhat” itulah fanatik dari mayoritas pengikut manhaj salaf dan masih banyak lagi.

Sebuah pengalaman pribadi. Sejak tahun 2015 an, setiap hari penulis dengar/hobi dengar dakwah via radio dan semua radio dakwah penulis dengar tidak pandang yang ceramah itu dari kalangan ustad-ustad dari ahli bid’ah, atau ustadz dari pengikut golongan yang mendekati sunnah, maupun ustadz dari pengikut manhaj salaf dari rodja ataupun radio sunnah lainnya, semua penulis dengarkan. Bahkan ceramah dari agama plintiran dari kristen, khatolik dan hindu, budha pun penulis dengarkan. Dan di dalam sebuah radio dakwah pasti ada lantunan ayat-ayat Alqur’an ples terjemahannya. Menurut penulis sangat sejuk di dengar dan bisa untuk merefleksi otak. Dan setiap hari penulis dengar dengan gonta-ganti gelombang/chenel, kadang radio dakwah ahli bid’ah dan kadang radio rodja atau sunnah dan kadang radio islam golongan yang mendekati sunnah seperti persada/radio golongan Mta dan sejenisnya.

Pada suatu hari ada tetangga dari kalangan pengikut islam golongan, nanya dan sering bener nanya ke penulis : Singkat cerita beliau nanya emang tidak bosen mas denger seperti itu terus, lama-lama bosen tau dengernya, penulis senyum dan sambil jait ngebut karena posisi penulis lagi jahit, tapi dalam hati agak mengganjal dikit, tapi tidak penulis tanggapin soalnya lagi serius jaitnya. Tapi dalam hati penulis dengar ibadah/nyimak dapat pahala kok bosen. Bukankah mendengar dakwah dan mendengar lantunan ayat-ayat alqur’an kita juga dapat pahala dan di anjurkan?

Dan pada suatu hari juga ada tetangga yang pengikut manhaj salaf ketika penulis lagi dengar radio ahli bid’ah, beliau bilang: Mas jangan dengerin radio begitu tidak bagus hati-hati kena syubhat, dan penulis sering dapat teguran seperti itu.

Dan penulis jawab pak kalau mendengar dakwah jangan hanya Dari A ,B dan C  karena itu menyebabkan taqlid buta dan fanatik buta dan kalau dengarin ceramah atau nyimak  jangan cuma sehari atau dua hari atau sekali dua kali tapi simakkah setiap hari ntah itu dakwah dari manapun sumbernya dan dengar dakwah jangan pandang bulu atau membeda-bedakan antara ustadz A, B, C dan seterusnya biar tidak fanatik buta dan juga taqlid buta.

Di semua yang di sampaikan oleh ustadz A, B dan C di sana ada ilmunya, mengenai cara dalam memahami tergantung dengan diri kitanya sendiri. Kita di beri akal untuk menilai dan memahami mana yang baik yang berdasarkan dua petunjuk yaitu Qur’an dan Hadits, ijma para sahabat yang sanad dan matannya lebih kuat, dengan yang tidak berdasarkan dua petunjuk yaitu dari katanya- katanya, dari kebanyakan orang atau mayoritas orang. Kita harus bisa memahami dengan akal yang jernih bukan dengan akal plintiran.

Dan juga pada suatu hari penulis berkunjung kesuatu majelis ta’lim/tempat pengajian sekumpulan pengikut golongan nu yang mengaji sebuah kitab gundul atau kitab kuning ntah itu kitab karya ulama siapa penulis kurang memperhatikan. Mereka ustadz nya di situ sangat menyarankan penulis mengikuti pengajiannya karena kebetulan ustadz-ustadznya ada yang sama dengan penulis asal kediri jatim.

Dan singkat cerita ngobrol-ngobrol ngalor, ngidul, ngetan, ngulon dan panjang-lebar…mereka nanya pernah ikut pengajian mas..dan penulis jawab sering pak, cuma lebih sering dengarin lewat radio, tv, yutube, mp3, mp4 dlln. Karena mau datang langsung tidak bisa karena terikat dengan kerjaan. Dan singkat cerita eh ujung-ujungnya mereka jelek-jelekin dan ngrendahin ustadz yang ada di tv dan radio. Mereka bilang jangan dengar dakwah di radio maupun  tv maupun media lain. “Gak bener”, Apalagi yang di siarin di tv/radio rodja dan tv sunah lainnya mereka bilang dakwahnya bukan karena Alloh tapi karena uang dan masih banyak lagi mereka bilang. Penulis mendengarnya telinga nyampe gimana gitu, tapi penulis cuma senyum terpaksa aja dan merendahkan diri sambil bilang iya-iya, karena mau menyanggah keadaan waktu itu belum memungkinkan.

Buat temen dunia nyata maupun dunia maya/fb, baik dari ahli sunnah atau pun ahli  bid’ah, wabil kusus para pencinta setia bid’ah. Perbanyaklah menggali ilmu dan mencari tau ilmu yang jelas. Yaitu ilmu yang bermanfaat, jangan memandang dari mana sumber ilmu itu kita dapat, dari manapun ilmu itu terimalah namun pandai-pandailah mencerna dan memahami mana yang baik dan mana yang buruk dan mana yang berdasarkan Qur’an dan Hadits dengan yang mana yang tidak berdasarkan Qur’an dan Hadist atau berdasarkan katanya-katanya/kata-kata dari kebanyakan orang.

langkah untuk biar tidak jadi orang yang taqlid buta maupun fanatik buta agar biar menjadi orang yang berwawasan luas,  untuk mendapatkan semua itu tidak harus dari sekolah tinggi dan mondok bertahun-tahun. Sekolah tinggi dan mondok bertahun-tahun tidak bisa di jadikan tolok ukur/tidak jadi  jaminan bagi penulis, bahwa seseorang itu berwawasan luas dan berpengetahuan luas tentang agama maupun pengetahuan lainnya, (maap bukan berarti penulis sombong dan mengingkari yang sekolah tinggi dan mondok puluhan tahun). Yang sudah sekolah tinggi dan mondok puluhan tahun jika mau di tambah dengan menggali ilmu sendiri di luar yang di ajarkan gurunya insyaallah akan makin bertambah wawasan dan pengetahuannya.

Biar tidak taqlid buta dan fanatik buta, caranya  cukuplah menjadi muslim untuk islam yang cuma satu yang sesuai dengan 2 pentujuk. Jangan ikut kelompok, golongan (ormas islam). Dan biasakan hobi membaca/perbanyaklah membaca buku-buku yang bermanfaat dan jelas sumbernya dan penerbitnya, namun sebenernya buku apa aja silahkan di baca, tapi ingat kita harus bisa dan pandai-pandai menilai mana yang baik dengan yang tidak. Dan hobiin mendengar tausiah-tausiah atau dakwah-dakwah pengajian dari manapun ntah itu lewat media maupun bukan, ntah itu lewat mp3 ataupun dari mp4 intinya simak semua yang berbau islami ntah itu debat antar golongan, ntah itu debat antar sekte, ntah itu debat antar agama silahkan di simak semua, biar tau oh yang itu gini dan yang ini gitu dsbt. (dengan cara ini suatu saat anda akan menemukan kebenaran yang sebenarnya/atau anda akan menemukan jati diri/fitrah anda). Silahkan di buktikan, penulis sudah membuktikan kini giliran pembaca.

kalau mendengar ceramah atau dakwah jangan hanya sekali atau dua kali tapi simaklah terus usahain ketika kita mau nonton atau dengar radio atau tv ketika di tengah kesibukan apalagi di waktu senggang utamain dengar dan tonton yang bermanfaat, jangan utamain nonton sinetron, nonton bola bela-belain bangun tengah malam, nonto berita-berita gibah dan sejenisnya.
Dan kalau dengar ceramah jangan hanya ustadz/kiay yang di fens saja, karena itu membuat kita taqlid buta dan fanatik buta tapi dengarlah semua karena dakwah tidak semua bisa di jadikan tolak ukur kebenarannya begitupun dakwah ormas-ormas, kelompok-kelompok semua itu tidak bisa di jadikan tolak ukur, yang bisa di jadikan tolak ukur kebenarannya hanyalah yang benar-benar bersandar pada Alqur’an dan hadits yang sahih.

Mohon maap  jika kata-kata penulis jika mungkin ada yang menyinggung pengikut manhaj salaf/salafi dan juga mugkin sangat menyinggung ahli bid’ahnya terutama kepada pengikut golongan Nu atau mungkin kritikan penulis terlalu pedas atau mungkin penulis orang paling berani menentang tradisi-tradisi, sekali lagi penulis mohon maaap penulis hanya menyampaikan dan mengingatkan dan selebihnya terserah masing-masing, intinya sampaikanlah yang benar itu benar dan yang salah itu salah.

Wallohu A’lam.

Comment

tags:

Populer post