12 Rabiul Awwal 1440 H

Tafsir qs annisa ayat 59.

Kategori Inspirasi
Di lihat 336 kali

Hits: 79

Tafsir qs annisa ayat 59.
Oleh: DWIWAP.COM

Qs An-nisa Ayat 59 yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taati Rasulnya dan Ulil Amri diantara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An-Nisa: 59)

Perhatikan kalimat taat kepada Allah dan taat kepada Rasull. Dan juga perhatikan kalimat kembalikan ke Allah dan kembalikan Ke Rasull.

Taat pada Allah= kembalikan ke Allah ini maksutnya suruh berpedoman dengan Alqur’an.
Dan taat pada Rasull= Kembalikan pada Rasull. Ini maksutnya suruh berpedoman pada hadits, namun hadits yang sahih.

Dan taati ulil amri diantara kamu. Semua orang mayoritas umat islam mengartikan ulil amri adalah penerintah/penguasa. Namun menurut penulis penguasa dan pemerintah itu hanya dalam artian untuk di dalam bernegara.

Ulil amri menurut penulis adalah pemimpin, dalam setiap regu. Seumpama dalam desa kita harus taati lurah, dalam rw atau rt harus taati rt/rw, dalam kabupaten taati pada bupati, dalam kec taati pada Camat dan dalam negara harus taati persiden. Dan sejenisnya.

Nah kita tidak usah jauh-jauh untuk taat dalam hal seperti itu. maksut penulis tidak perlu di bahas taat dengan hal demikan, karena rata-rata pemimpin sudah keluar dari jalur islam kaffah/dalam dua petunjuk. Namun apapun alasannya utamakan taat kepada Allah dan Rosulnya. Perlu di garis bawahi= Dan taati ulil amri yang di maksut itu taati selagi tidak menyelisihi islam agama Allah. Jika menyelisihi tidak patut kita taati kalau perlu kita memberontak.

Yang perlu kita cerna maksut taati ulil amri dalam Qs di atas adalah taati ulil amri dalam berkaitan dengan agama islam yaitu taati ulama, ust, kiay, maksutnya kita disuruh mengikuti mereka, mengambil pelajaran dari mereka, menjadikan kitab/buku karya mereka untuk mudah mempelajari islam, bukan untuk di jadikan tandingan dan tidak harus fanatik mengatakan ikuti ulama ini-itu seperti jaman sekarang yang islam golongan seperti yang mereka namai ormas/organisasi mereka mengatakan mengikuti mazab ulama maliki, mazab safii. mazab hambali, mazab hanafi, begitupun dengan salafinya mengatakan mengikuti seluruh imam Mazab, seluruh ulama salapus shaleh atau manhaj salaf dan sejenisnya. (Namun tidak bisa di pungkiri bagi yang condong fanatik mereka akan tetep mengatakan seperti itu).

Sebenernya Kalau mengaku islam ya ikuti dua petunjuk, dan ikuti dua petunjuk atau yang berdasarkan qur’an dan hadits ini luas artinya, intinya tanpa kita tunjukkan kefanatikan kepada ulama tertentu atau ulama terdahulu. Nmanya islam ya sudah dengan otomatis sendiri mengikutinya. Intinya Mereka tidak menyimpang dari sariat islam ikuti, jika menyimpang tidak usah di ikuti. Namanya islam= muslim sudah pasti mengikuti tanpa kita mengatakan mengikuti atau kata umat islam mayoritas bermazab kalau kata minoritas bermanhaj, tanpa kita katakan/tunjukan hal seperti itu, namanya islam sudah pasti mengikuti Allah, Rosul, Sahabat Rasul, dan ulama setelah nya Atau ulama-ulama terdahulu yang pemahamannya sesuai sariat islam. Tidak perlu fanatik nengatakan Islam salafi atau islam nu. Saya aswaja atau mengikuti salapus shaleh dan berbagai alasannya lainnya.

Mari kita renungkan bersama :
Marilah jika ada perbedaan pendapat kita kembalikan kedalam Al-Qur’an dan Hadist. Jangan di kembalikan kedalam perkataan dari kebanyakan orang atau katanya-katanya. Tidak peduli itu kata Ustad, kata kiay atau kata Ulama-ulama terdahulu maupun sekarang.

Dan Perlu kita dan anda ketahui semua. Imam yang 4 yaitu Iman Hanafi, imam safi’i, imam maliki, hambali dan Imam lainnya termasuk imam hadits dan juga syaikh bin bas, syaikh abdul bin wahab, syaikh ibnu taimiah, syaikh utsaimin, syaikh albani dan lainnya, dan ulama-ulama terdahulu lainnya tanpa kecuali. Mereka bukan Rasull, mereka bukan Nabi, mereka bukan sang peneriwa wahyu. (Sebagian mereka adalah ahli tafsir, periwayat hadits, pengarang kitab fiqih dll). (Mereka semua tidak bisa di jadikan tolak ukur). Jangan di taqlid-i. (Namun bukan berarti mengingkari mereka). Mereka hanya manusia biasa seperti kita yg tak luput dari salah dan Dosa. Dilarang taqlid : Taqlid bisa mematikan kriativitas ketajaman hati dan ketajaman pikiran. Kecuali Berdasarkan dalil yg kuat.

Kesimpulannya Mengenai Ulil Amri : Di Ayat yang penulis kutip di atas memerintahkan untuk taat kepada ulama bukan untuk bertaqlid buta, berfanatik buta dan jika ada perbedaan maka di suruh mengembalikan kepada ke dua petunjuk. Maksut di kembalikan kedua dalam petunjuk yaitu amalan/amaliah yang di kerjakan atau di praktekan ada dalilnya yang kuat atau tidak. Jika tidak ada maka tinggalkan tafsiran/pendapat para ulama tersebut. Namun bukan berarti mengingkari mereka.

Wallohu alm

comments

tags: