12 Sya'ban 1440 H

Penjelasan motto.

Kategori Kritikan
Di lihat 654 kali

Hits: 59

Silahkan di baca motto saya dalam website ini, tulisan dalam motto itu saya jujur awalnya saya termotivasi dari seseorang ustadz yang saya anggap cerdas, pintar, jenius dan ceramah-ceramahnya menyejukkan qolbu dan telinga. Namun tidak sedikit umat islam yang fanatik buta baik dari pengikut islam golongan maupun dari salafi meyebut ustadz ini SYI’AH, itulah pembodohan sebagian mayoritas umat islam. Dan sebelum saya mengenal radio tersebut saya sudah mempunyai ide/opini yaitu cukup muslim sejak kurang lebih sekitar tahun 2002 an. Sedangkan saya mengenal radi yang saya maksut tersebut awal tahun 2015 an.

Beliau ustadz yang saya maksud pengasuh sebuah  radio, motto beliau dalam radio tersebut mengajak untuk menjadi muslim saja, tidak menganjurkan fanatik golongan, mazab, manhaj dan sejenisnya.

Namum anehnya dan sungguh ironisnya beliau dalam mottonya mengajak saling menghargai dan menghormati dalam kesesatan, seperti mengakui adanya agama lain selain islam, bertoleransi  terhadap mereka dan beliau juga masih membela bid’ah/kesesatan yang tiada ketara bahkan jadi penceramahnya ketika lagi ada acara ulang tahun nabi Saw/ maulid, isroj-miraj  dan sejenisnya, dan anehnya lagi beliau mengajak untuk tidak bergolong-golongan namun entah sadar atau tidak sadar radio yang beliau asuh penceramah-penceramahnya rata-rata anggota partai semua, (dalam partai juga ada ustadz/ustadzah nya, seperti partai Pks, dan sejenisnya), dan juga rata-rata penceramahnya juga anggota golongan/ormas islam, namun anggota golongan yang masih agak ilmiah dikit bukan Nu, Nu sebagian besar tidak sependapat dengan ide/opini ustadz yang saya maksud tersebut namun di dalamnya faham nya tidak jauh beda dengan NU.

Namun letak perbedaan dalam radio yang di asuh oleh ustadz yang saya maksud tersebut ceramah-ceramah agak ilmiah dikit. Bukan ceramah yang nglawak/nyleneh. Namun penceramah-penceramahnya juga rata-rata golongan pembela mati-matian bid’ah seperti Ustadz pendiri golongan FPI dan sejenisnya. Namun alasan apapun dakwah yang terilmiah tetep dari kalangan dakwah sunnah dan tauhid seperti: radio rodja, fajri, ismail, persada/mta, dan sejenisnya.

Akhirnyata kata-kata ustadz pengasuh radio tersebut saya modifikasi total dan saya luruskan, seperti halnya ”nasehat imam Syafi’i yang saya luruskan”. Namun Masyaaallah telah banyak ilmu yang saya dapat dari ustadz yang saya maksud tersebut. Saya tidak mengingkari itu.

Comment

0Shares
tags:

Populer post