21 Safar 1441 H

1,576 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini


Oleh: DWIWAP.COM

Imam Syafi’i berkata: Iilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan enam perkara yaitu :

1. kecerdasan
2. semangat
3. sungguh-sungguh
4. berkecukupan
5. bersahabat (belajar) dengan ustadz
6. membutuhkan waktu yang lama.

Yang harus di luruskan dan di garis bawahi yaitu: berkecukupun. Kalau tidak berkecukupan bisa belajar sendiri, dijaman era yang sudah serba canggih ini Allah makin mempermudah manusia untuk mencari ilmu, mencari pengetahuan dan mencari wawasan, semiskin-miskinnya orang di jaman sekarang, tidak mungkin tidak memiliki Hp atau tidak memiliki uang untuk membeli buku, banyak jalan untuk belajar menuntut ilmu. Jadi jika tidak berkecukupan bisa belajar sendiri entah itu melalui membaca buku-buku, membaca melalui website, mengikuti kajian-kajian dari berbagai ustad di jejaring sosial dan sejenisnya.

Dan sebelum membaca yang penulis maksut yaitu, utamakan hobiin membaca terutama membaca Alqur’an yang ada terjemahannya, Asbabun nuzulnya dan maknanya, baru setelah itu menuju membaca buku-buku hadits, membaca buku-buku fiqih, membaca buku-buku tafsir dari berbagai riwayat, membaca buku-buku keagamaan dari berbagai ulama yang sudah di terjemahkan dari berbagai pemahaman dan membaca buku-buku pengetahuan lainnya, dan hobiin juga mendengarkan tausiah- tausiah atau ceramah-ceramah dari berbagai ustadz dari berbagai islam golongan atau ormas islam maupun kelompok biar tidak fanatik buta dan taqlid buta. Dan hobiin juga mendengar dakwah agama perbandingan. Seperti islam vs Kristen, islam vs hindu dan seterusnya. Biar pengetahuan dan wawasan bertambah.

Jangan seperti kebanyakan umat islam/mayoritas orang mendengar dakwah/ceramah hanya di saat tertentu, seperti ketika ada acara maulid, sedang ada kajian, dan sejenisnya itupun yang di dengar ceramah ustadz yang ngelawak, jika yang ceramah tidak ngelawak mereka tidak tertarik dan tidak suka, ustadz yang dakwahnya tegas, dan ilmiah, berdasarkan dalil malah mereka tidak suka.

Mereka cap pemecah belah umat, mereka cap mengkafir-kafirkan, mereka cap menyesat-nyesatkan, mereka cap membidah-bidahkan dan sejenisnya, inilah pembodohan mayoritas umat islam terutama pengikut golongan islam terbanyak. Siapa golongan islam terbanyak tersebut, tentunya anda yang lebih tau.

Dan pengikut islam yang saat ini menjadi minoritaspun/yang oleh mayoritas sebut salafi, merekapun hampir terjebak kedalam hal yang sama, yaitu sebagian besar sama dengan pengikut islam golongan tidak mau mendengarkan ceramah atau opini di luar ustadz yang sepaham dengan mereka. Ternyata yang minoritaspun atau yang saat ini di sebut salafi pun sebagian terjebak dengan hal yang sama dengan umat Islam dari pengikut golongan, mereka tidak mau mendengar ceramah di luar yang sepaham dengan ustadznya dengan alasan kita kan sudah benar ngapain dengar yang lain dan ada yang memegang teguh perkataan ustadznya dengan alasan takut terkena syubhat.

Manusia di beri akal, dengan akal kita bisa memilah-memilih antara yang hak dengan yang bathil, begitu pun dalam setiap ceramah di setiap ustadz ahli bidah tidak semua yang mereka sampaikan berbau syubhat dan berbau bid’ah semua. tentunya kita mendengar kan ceramah baik dari ustad A, B, C dan seterusnya di cerna, dan di saring dahulu.

Bagi anda yang belum mampu mentelaah/membedakan mana syubhat dengan tidaknya anda berhati-hati tidak mengapa, namun tidak harus menutup diri total dari ide/opini/dari ustadz yang tidak sepaham. Seperti mayoritas yang di sebut salafi kebanyakan sekarang ini.

Dan mendengar dakwah tidak harus di pengajian majelis ta’lim yang anda datangin saja. Tapi Jika tidak bisa datang langsung ke majelis ta’lim karena sesuatu hal atau uzur maka anda bisa dengarkan dakwah itu melalui mp3, mp4, dari berbagai radio dakwah, tv dakwah, dan yutube.

Dan perlu anda ketahui, bagi anda yang punya banyak waktu dan di berikan harta lebih, sudah pasti anda tidak terikat oleh kerjaan, anda bisa mengikuti pengajian di majelis ta’lim langsung. Namun anda jangan hanya fokus belajar di majelis yang anda ikuti saja atau yang di ajarkan oleh kiay anda saja, silahkan belajar juga atau menggali ilmu pengetahuan juga di luar yang di ajarkan oleh kiay/guru anda juga. Jika anda menutup diri, mencukupkan belajar hanya kepada ustadz/kiay anda di majlis taklim, tidak punya rasa ingin tau pengetahuan yang di luar yang ajarkan guru/ustadz anda. Maka wawasan dan pengetahuan anda tidak akan berkembang yang ada anda akan di buat taqlid buta dan fanatik buta. Akhirnya anda beragama hanya akan berprinsip yang penting mengikuti apa kata kiay anda, tidak peduli pemahaman guru/kiay anda menyelisihi sariat islam atau tidak yang penting prinsip anda ngikut, atau anda tidak mau tau pengetahuan yang lainnya selain dari ustad yang saudara dan saudari ikuti maka selama itu pula anda akan di perbudak bid’ah/kesesatan yang tiada ketara dan pembodohan.

Setiap ustadz memiliki kelebihan dan kecerdasan yang berbeda-beda dan menghasilkan pengetahuan yang berbeda-beda intinya selama tidak menyimpang dari sariat islam kita patut ambil ilmunya.

Seorang guru dengan murid, murid harus lebih cerdas dari gurunya, kenapa? Karena pada umumnya guru/kiay ngandalin taqlid buta, namun murid bisa mencerna dan menyaring lagi pemahaman sang kiay atau guru tersebut, dan semua itu tidak akan anda dapati selama anda ngandalin taqlid buta dan fanatik buta, tidak hobi menggali ilmu dari berbagai sumber, tidak mau menerjang dan melawan arus balik pemahaman yang menyimpang, tidak mau mencari jati diri dan tidak mau berusaha mencari dan mengejar hidayah Allah. Maka selama itu anda akan di perbudak bid’ah/kesesatan yang tiada ketara, atau selama itu anda akan di perbudak pembodohan, kefanatik butaan dan ketaqlid butaan.

Ilmu pengetahuan agama tidak harus di dapat dari ustadz yang anda ikuti di majlis ta’lim maupun dari tempat anda mondok saja atau dari ustadz yang anda taqlid-i dan anda fens saja, tapi ilmu agama itu bisa di dapat dari berbagai golongan islam dari sumber manapun itu. Tapi Intinya kita harus bisa dan pandai-pandai mencerna dan menyaring dengan akal jernih bukan dengan akal plintiran untuk menilai mana yang baik dengan mana yang batil.

Jangan seperti kebanyakan orang bilang gini:
Belajar tanpa guru bisa tersesat, belajar Qur’an tanpa guru bisa nyasar, belajar sendiri gurunya setan, belajar sendiri gurunya google, nah inilah kata-kata yang sering di ucapkan oleh mayoritas pengikut islam golongon tertuma yang saat ini jadi mayoritas. Semua itu akibat fanatik buta, taqlid buta dan sejenisnya. Alias orang-orang yang sedang membodohin diri/nunjukin pembodohan dan orang-orang munafik alias maling teriak maling.

Kebanyakan atau mayoritas orang hanya pasrah dengan pengetahuannya yang di dapat dari gurunya saja. Tidak mau mencoba dan berusaha menggali ilmu di luar yang di ajari gurunya. Itulah yang membuat taqlid buta dan fanatik buta dan wawasan tidak berkembang. Walaupun tidak bisa menyampekan di publik atas pengetahuan yang kita dapat namun setidaknya kita mengetahui dalam hati antara yang hak dan batil atau walaupun tidak bisa mengungkapkan lewat ucapan secara terang-terangan setidaknya kita tau oh yang ini begini, oh yang ini begitu dan seterusnya.

Banyak penulis jumpai ustadz/ustadzah yang taqlid buta. Dalam ceramahnya ustadz tersebut mengatakan belajar Qur’an sendiri bisa tersesat dan nyasar akhirnya makin membuat banyak orang-orang putus asa akhirnya Qur’annya hanya buat pajangan untuk hiasan di sekitar ruangan rumahnya, baca Qur’an jadi malas, paling pol baca qur’an baca surah yasin yang di kususkan di setiap malam jum’at, tidak sedikit penulis jumpai di pondok-pondok ustadz/kiay hanya menyuruh membaca arabnya saja dan menghafalnya saja. Akhirnya mayoritas muridnya kebanyakan hanya menghafalnya saja. Jarang ada yang mempelajari isinya, maka dari itu jika lulus dari pondok makin taqlid buta, ya wajar saja.

Dan tanpa di takut-takuti untuk belajar sendiri bisa tersesat saja masyarakat sudah banyak yang takut untuk belajar sendiri, Apalagi malah di tambahi di takut-takuti. Padahal Alqur’an itu gudang mencari ilmu.

Allah berfirman dalam Alqur’an yang artinya :
Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?
Yakni selain untuk dibaca, dihapal, tapi untuk dipahami, dipelajari dan direnungi. Allah Subhaanahu wa Ta’aala telah memudahkan lafaznya untuk dibaca dan dihapal, maknanya untuk dipahami dan diiketahui.

Hal itu, karena Al Qur’an adalah sebaik-baik perkataan, paling benar maknanya dan paling jelas keterangannya. Allah Azza wa Jalla telah menurunkan Kitabnya yang mulia kepada hambanya sebagai petunjuk, rahmat, penerang, pembawa kabar gembira serta peringatan bagi siapa saja yang mau mengambil peringatan. Allah Azza wa Jalla juga mengajak mereka untuk membaca dan mentadaburinya (merenunginya), sebagaimana Allah Azza wa Jalla berfirman :
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an? sekiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (An-Nisa’/4:82).
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, Kalau bukan karena Allah telah memudahkan Al Qur’an pada lisan manusia, tentu tidak satu pun makhluk yang dapat berbicara dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla.

Intinya belajar itu bisa dari mana saja dan ilmu itu bisa kita dapat dari manapun saja mengenai dalam memahami itu tergantung kepada diri kita/anda masing-masing kita di beri akal dan di beri pedoman Alquran, dengan akal kita bisa mencerna dan memahaminya. Yang baik dengan yang tidak baik, dan yang benar/hak dengan yang tidak. Namun jangan sampai akal mengakalin qur’an namun jadikan akal tercerdas anda untu memahami dan memilah-memilih antara yang hak dengan yang batil/sesat.

Dan Yang penulis maksut “kita harus pandai mencerna mana yang baik dan mana yang benar”.
Yaitu : misal jika kiay atau ustadz atau da’i tersebut mengajak atau mendakwahkan untuk mengajak kebid’ahan atau kebatilan jangan kita ikuti tapi kita jadikan untuk menambah wawasan kita dan untuk di jadikan untuk mempertajam dalam memilih mana yang baik dengan mana yang tidak. Contoh lagi misal ustadz anda mengajak anda fanatik atau memandang sebelah mata bahwa diantara dari pengetahuan ustadz ahli bidah itu berbau syubhat semua maka jangan di ikuti. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Kalau yang di ikuti/disimak/di dengarkan hanya satu kiay atau kiay yang di fens atau kiay/ustadz tertentu akibatnya kaya seperti kebanyakan orang di masyarakat dan di sebagian kaum muslim pengikut ormas islam atau pengikut islam golongan terutama golongan yang saat ini kebanyakan mereka 99% taqlid buta dan fanatik buta semua. Dan sebagian yang ngaku salafi juga fanatik buta.

Insiatip tulisan ini memang kelihatannya hanya sepele mungkin pengaturan dalam kata-kata nya kurang pas, namun sebenarnya manfaatnya sangat besar, silahkan di kembangkan lagi untuk di jadikan Motivasi dan Inspirasi. Tentunya untuk anda yang berprinsip netral.

Ini resmi ide/opini penulis.

Salam: Dwiwsp.com

Comment

tags:

Populer post