19 Zulhijjah 1440 H

Motto

542 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Sesama muslim adalah saudara. Mari kita bersatu dengan tujuan untuk menegakkan kalimat Allah, keadilan, memperjuangan kebenaran dan menyambung serta merajut tali persaudaraan diantara kaum muslimin, tanpa melihat kelompok, golongan, sekte, mazhab, dan manhaj, (Namun bukan berarti mengingkari mereka). Dan juga bukan berarti menyetujui mayoritas mereka untuk bergolong-golongan, berkelompok-kelompok, bermazab ulama ini-itu, bermanhaj ini-itu, bertaqlid buta terhadap ulama ini-itu, berfanatik buta terhadap ulama ini-itu dan sejenisnya. Semua itu tidak ada perintah nya dari Allah maupun rosulnya, Allah hanya menyuruh mengikuti, seperti dalam QS An nisa 59 yang artinya:

Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, serta ulil amri diantara kalian. Jika kalian berselisih dalam suatu hal, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-nya. Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (QS. An Nisa: 59).

Kita semua umat islam beriman kepada Tuhan yang sama, Nabi yang sama, Kitab yang sama, Tujuan yang sama dan keimanan yang sama. Mari berprinsip tanpa ada kefanatikan.

Maka dari sini penulis mengajak..!!!
Jika ada perbedaan pendapat dimanapun saudara dan saudari berada, mari kita kembalikan ke 2 petunjuk yaitu Alqur’an dan hadits yang sahih. Jangan di kembalikan ke dalam kata kebanyakan orang/mayoritas orang, atau katanya-katanya nanti tersesat atau di sesatkan. Selama kita berpegang erat kepada kedua petunjuk tersebut maka kita semua Insyaallah tidak akan tersesat selama-lamanya. Pedoman kita adalah Alqur’an dan Alhadits, bukan pancasila dan UUD 1945 atau sejenisnya. Jika pemerintah/ulil amri baik dari negara dan agama mengutamakan pedoman karya manusia yang bersumber dari Al-Qur’an tersebut, karena mereka mayoritas taqlid buta.

Terkait mengikuti kebanyakan orang/katanya-katanya, Allah berfirman yang artinya: Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persanggkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah mengira-ngira saja. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang orang yang mendapat petunjuk. (Al-An’am/6:116-117).

Mari kita bersuci tangan dari Ustad, Kiay, dan ulama-ulama yang menciptakn tuhan-tuhan palsu yang mengajak masyarakat-masyarakat menyembah mereka, mengikuti mereka dan memberi wewenang untuk mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram yang kita sembah adalah hanyalah Allah Subhana Wataala Tuhan semesta Alam.

Dan nabi kita adalah Nabi muhamad SAW yang melanjutkan tugas para nabi dan Rasull sebelumnya. Kita beriman kepada nabi muhamad, kita beriman kepada nabi musa, kita beriman kepada nabi brahim, kita beriman kepada nabi Isa dan dan kita beriman kepada seluruh nabi tanpa membeda-bedakan.

Pedoman kita adalah Alquran dan Hadits, Riwayat-riwayat dari ulama terdahulu maupun terbaru entah Itu dari sexte Syiah atau Sekte lainnya atau dari islam golongan apapun selagi sejalan dan sesuai Dengan Alquran Dan sabda nabi, mari kita ambil dan selagi mengajak untuk menyebah Alloh tidak mengajak mempersekutukan mari kita terima tidak peduli itu dari kelompok atau golongan manapun namun sebalik jika mengajak untuk mempersekutukan Allah dan menyelisihi Rosull mari kita tolak.

Intinya riwayat-riwayat dari ulama-ulama manapun yang tidak sesuai mari kita buang, dan mari kita bersuci tangan dari mereka. Dan perlu kita ketahui semua Imam yang 4 Hanafi, Safi’i, Maliki, Hambali dan Imam lainnya dan Syaikh Binbas, Syaikh Abdul bin Wahab, Syaikh Ibnu Taimiah , Syaikh Utsaimin, Syaikh Albani Dan lainnya, dan ulama-ulama terdahulu mereka bukan Nabi, mereka bukan penerima Wahyu mereka adalah Ahli Fiqih, Periwayat Hadist, Penafsir dll. Jangan di taqlid-i. (Namun bukan berarti mengingkari mereka). Mereka juga manusia seperti kita yg tidak luput dari salah dan dosa.

Dilarang taqlid : Taqlid bisa mematikan kriativitas ketajaman hati dan ketajaman pikiran. Kecuali Berdasarkan dalil dan alasan yang kuat. taqlid buta tidak boleh yang boleh i’tiba’. Namun i’tiba’ pun tidak harus nyampe taqlid buta dan fanatik buta. dan menonjolkan diri, seperti mengklaim bermanhaj, bermajab dan sejenisnya. Jika anda bersikeras ingin fanatik buta dan taqlid buta, maka fanatik buta dan taqlid butalah hanya kepada Allah dan rasulnya.

Dan katakan ana muslim bukan ana bermanhaj salaf/salafi, muhamadiyah, nu, mta, persis, hti, fpi dan sebagainya. Setelah anda mengatakan ana muslim , lalu aplikasikan ajaran islam secara kaffah atau keseluruhan, dan ikuti dua pentunjuk tidak menyelisihi sedikitpun maka dengan otomatis dengan sendirinya mengamalkan qs An-Nisa’ Ayat 59 di atas, tanpa harus mengklaim bermanhaj, bermazab atau ikuti ulama ini-itu, namun bukan berarti penulis mengajak meninggalkan pemahaman para salaf terdahulu.

Jika diantara sudah mengatakan ana muslim tidak ikut kelompok, golongan mazab, partai dan sebagainya, namun anda tetep membela kesesatan, seperti meyakini adanya agama lain selain islam, membenarkan pemerintah meresmikan agama lain selain islam, mengklaim adanya bid’ah hasanah, meyakini bahwa nabi isa As masih hidup dan akan kembali lagi, dan masih menghargai/menghormati orang berbuat bid’ah/kesesatan dan sejenisnya. Maka anda belum patut menyandang lebel cukup muslim, tapi gelar yang cocok untuk AHLI BID’AH dan pengikut kelompok/pun golongan.

Dan para ulama terdahulu mengartikan surat An-Nisa’ Ayat 59 dengan sebutan bermanhaj untuk mempermudah cara memahaminya, namun penulis rasa tidaklah harus mengatakan atau menonjolkan diri dengan mengatakan ana salafi/bermanhaj salaf. jika demikian lantas apa bedanya dengan yang mengklaim bergolong-golongan dan bermajab ini-itu. Karena semua itu menyebabkan fanatik buta dan taqlid buta.

Penulis rasa tidaklah harus menonjolkan diri/membuat ciri khas seperti pengikut islam golongan yang mengatakan bermazab ini dan itu, ikuti ulama ini dan itu dan sejenisnya. LABEL yang paling benar kita sandang adalah MUSLIM. karena Allah menyebut kita seperti itu, bukan nama-nama yang dibuat oleh manusia dengan maksud/dalih menghormati atau mengagungkan ulama tertentu… tidak kurang dari 17 ayat dalam berbagai surat Allah Swt menyebut kita muslim. Bersambung…

======>>>><<<<======

Tulisan dalam motto itu jujur awalnya penulis termotivasi dengan seseorang ustadz yang penulis anggap cerdas, pintar, jenius dan ceramah-ceramahnya menyejukkan qolbu dan telinga.

Namun tidak sedikit umat islam yang fanatik buta baik dari pengikut islam golongan maupun dari salafi meyebut ustadz ini SYI’AH, itulah pembodohan sebagian mayoritas umat islam. Dan sebelum penulis mengenal radio tersebut penulis sudah mempunyai ide/opini yaitu cukup muslim sejak kurang lebih sekitar tahun 2012 an. Sedangkan penulis mengenal radio yang penulis maksut tersebut awal tahun 2015 an.

Beliau ustadz yang penulis maksud pengasuh sebuah  radio, prinsip beliau dalam radio tersebut mengajak untuk menjadi muslim saja, tidak menganjurkan fanatik golongan, mazab, manhaj dan sejenisnya.

Namum ironisnya beliau ngajak cukup menjadi muslim namun beliau dalam mottonya mengajak saling menghargai dan menghormati dalam kesesatan, seperti mengakui adanya agama lain selain islam, bertoleransi  terhadap mereka dan beliau juga masih membela bid’ah/kesesatan yang tiada ketara bahkan jadi penceramahnya ketika lagi ada acara ulang tahun nabi Saw/ maulid, isroj-miraj  dan sejenisnya.

Dan anehnya lagi beliau mengajak untuk tidak bergolong-golongan namun entah sadar atau tidak sadar radio yang beliau asuh penceramah-penceramahnya rata-rata anggota partai semua, (dalam partai juga ada ustadz/ustadzah nya, seperti partai Pks, dan sejenisnya), dan juga rata-rata penceramahnya juga anggota golongan/ormas islam, namun anggota golongan yang masih agak ilmiah dikit bukan Nu, Nu sebagian besar tidak sependapat dengan ide/opini ustadz yang penulis maksud tersebut namun di dalamnya faham nya tidak jauh beda dengan NU.

Namun letak perbedaan dalam radio yang di asuh oleh ustadz yang penulis maksud tersebut ceramah-ceramah agak ilmiah dikit. Bukan ceramah yang nglawak/nyleneh. Namun penceramah-penceramahnya juga rata-rata golongan pembela mati-matian bid’ah seperti Ustadz pendiri golongan FPI dan sejenisnya. Namun alasan apapun dakwah yang terilmiah tetep dari kalangan dakwah sunnah dan tauhid seperti: radio rodja, fajri, ismail, persada/mta, dan sejenisnya.

Akhirnya motto ustadz pengasuh radio tersebut penulis modifikasi total dan penulis luruskan, seperti halnya ”nasehat imam Syafi’i yang penulis luruskan”. Namun Masyaaallah telah banyak ilmu yang penulis dapat dari ustadz yang penulis maksud tersebut. Penulis tidak mengingkari itu akan keilmuan dan kecerdasan nya ustadz tersebut.

Comment

Populer post