12 Rabiul Awwal 1440 H

Mengingkari faham mayoritas.

Kategori Motivasi
Di lihat 976 kali

Hits: 58

Mengingkari faham mayoritas. Oleh: DWIWAP.COM

Jarang ada bahkan mungkin tidak ada yang berani melawan arus balik faham sendirian. Yaitu cukup mengakatakan ana muslim/islam tidak ikut golongan, tidak taqlid buta, tidak bermazab, tidak bermanhaj, tidak fanatik buta terhadap ulama ini-itu. Namun bukan berarti mengingkari mereka.

Berprinsip sesuai dalam Qur’an: Percaya bahwa tidak ada agama lain selain islam. Seperti kristen, khatolik, hindhu, budha, konghucu dlln itu bukan agama dari Allah tapi agama buatan setan dari golongan manusia yang licik dan zalim terdahulu yang di taqlid-i dari jaman ke jaman, hingga jaman sekarang.

Percaya bahwa yahudi dan nasrani itu sebutan untuk kaum nabi musa As dan nabi Isa As, lalu di salah gunakan atau di ambil alih oleh orang kafir, musrik terdahulu, lalu jadilah sekarang milik mereka untuk penyebutan nama agama buatan mereka. Dan akhirnya pada jaman nabi Muhammad, Allah abadikan dalan qur’an.

Meyakini bahwa agama Allah cuma satu yaitu islam. (Tidak ada embel-embel). Meyakini bahwa ormas islam/organisasi/wadah atau apapun penyebutan mereka bahwa semua itu di sebut golongon dalam qur’an. Percaya bahwa semua ulama Ahli tafsir dan semua ahli fiqih, ahli riwayat dan sejenisnya tidak bisa di jadikan tolok ukur, tapi bukan berarti mengingkari mereka. Namun bisa kita jadikan untuk mempermudah memahami islam. Tidak taqlid hingga taqlid buta dan fanatik hingga fanatik buta.

Taqlid adalah keyakinan atau kepercayaan kepada suatu paham (pendapat) ahli hukum yang sudah-sudah tanpa mau mengetahui-memahami dasar dan alasannya. Kesimpulannya taqlid bisa mematikan kreativitas ketajaman hati dan ketajaman pikiran, karena tidak mau tau dan mengetahui dasar dan alasannya yang di taqlid-i. Akhirnya menjadi taqlid buta yang penting mengikuti.

Fanatik adalah (Fanatik golongan, mazab, ulama, ustad, Kiay dan sejenisnya. Yang tidak condong fanatik mereka tidak harus mengklaim ikut mazab ini-itu, ulama ini-itu dan manhaj ini-itu. Sebenarnya jika mereka mau berfikir luas dikit tanpa kita fanatik ulama ini-ulama itu dsbt, namanya islam ya sudah pasti mengikuti Allah, Rasullnya, para sahabat Nabi, tabiin-tabiut dan ulama-ulama setelahnya yang tidak menyelisihi Qur’an dan sunah. tidak harus mengklaim ikut mazab ini dan itu, dan seterusnya.

Contoh fanatik yang condong ke golongan yaitu seperti fanatik ormas islam. Ormas islam ini golongan jaman era kita sekarang, kalau jaman dahulu di sebut sexte. Namun bedanya kalau sexte itu condong menyelisihi sa’riat islam namun kalau ormas islam condong ke sa’riat islam, namun dua-duanya di Al-Qur’an di sebut golongan.

Namun mereka yang condong taqlid buta dan fanatik buta mengatakan bahwa seluruh ormas islam itu bukan golongan tapi wadah. Inilah maap pembodohan yang saat ini sudah terjadi. Sejatinya pendiri golongan adalah pemecah belah umat islam yang sebenarnya walaupun tiada ketara, pada intinya semuanya bertujuan mempertajam dan memperuncing perbedaan. Dan mereka semua bukan berjuang untuk agama islam yang sebenernya, namun mereka condong berjuang untuk kelompok/golongan mereka, karena hasilnya rata-rata menghasilkan tafsir yang berbeda-beda, dan pemahaman yang berbeda-beda.

Coba andaikan mereka berjuang untuk agama Allah yaitu islam saja yang sesuai dengan sa’riat islam atau sesuai dengan dua petunjuk yaitu Qur’an dan Sunah atau sesuai yang telah di tetapkan oleh Allah dan Rasullnya penulis yakin tidak ada perbedaan dalam islam. Kenapa bisa terjadi ada perbedaan. Karena ada yang condong menyelisihi sariat islam dan ada yang tidak beres mempelajari islam.

Namun sejatinya memang selama masih di sebut muslim nyembah Allah yang sama, bertujuan yang sama, berpedoman dengan kitab yang sama, bernabi yang sama saya pastikan tidak ada perbedaan dalam islam. Kenapa bisa banyak yang beda paham sampai kluar jalur yang di sariatkan oleh islam karena diantara mereka ada yg menyelisihi Alqur’an dan Hadits.

comments

tags: