19 Zulhijjah 1440 H

194 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Oleh: Dwiwap.com

Ada sebuah Ayat dalam Qur’an yang Artinya sebagai berikut:

(1) Katakanlah: Hai orang-orang kafir,
(2) Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
(3) Dan kamu bukan penyembah Rabb yang aku sembah.
(4) Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
(5) dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Rabb yang aku sembah.
(6) Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku. (QS. Al Kafirun: 1-6).

Ayat tersebut banyak penulis jumpai di ucapkan oleh ustadz/ustadzah, kiay dan sejenisnya dengan memotong di bagian ayat ke 6 yang bunyi seperti di bawah ini:
Lana a’maaluna walakum a’maalukum artinya (bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu).

Kebanyakan/mayoritas umat islam baik itu dari kalangan pengikut islam golongan. Baik itu ulama, ustad, kiay, da’i dan apalagi masyarakat biasa, mereka kebanyakan menyodorkan terjemahan ayat diatas kepada sesama muslim atau kepada muslim lainnya yang berlainan pendapat. Padahal ayat tersebut hanya di tujukan untuk ke orang kafir/non muslim.

Ayat tersebut berisi seruan pada orang-orang musyrik secara terang-terangan bahwa kaum muslimin berlepas diri dari bentuk ibadah kepada selain Allah yang mereka lakukan secara lahir dan batin. Surat tersebut berisi seruan bahwa orang musyrik tidak menyembah Allah dengan ikhlas dalam beribadah, yaitu mereka tidak beribadah murni hanya untuk Allah. Ibadah yang dilakukan orang musyrik dengan disertai kesyirikan tidaklah disebut ibadah. Kemudian ayat yang sama diulang kembali dalam surat tersebut. Yang pertama menunjukkan perbuatan yang dimaksud belum terwujud dan pernyataan kedua menceritakan sifat yang telah ada (lazim).

Di akhir ayat Allah tutup dengan menyatakan,
– Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.
Ayat ini semisal firman Allah Ta’ala:
– Katakanlah: Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing. (QS. Al Isra’: 84).
– Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Yunus: 41)
– Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu. (QS. Al Qashshash: 55)

Sesama muslim seharusnya saling mengingatkan tentang kebenaran yang Hak atau yang berdasarkan Qur’an dan hadist yang sahih dan yang kaffah.

Terutama mengingatkan kepada Ahli bid’ah, jangan putus asa mengingatkan kepada mereka, karena mereka sudah terlanjur taqlid buta, dan taqlidnya melebihi kaum nasrani dan yahudi. Mereka semua ahli bid’ah sudah terlanjur keras memegang tradisi-tradisi. Karena tradisi-tradisi tersebut sudah mereka anggap rutinitas bagian islam dan mereka anggap bagian islam yang wajib. Itulah pembodohan yang saat ini terjadi yang tidak bisa di pungkiri.

Banyak penulis jumpai di dunia maya dan di dunia nyata ketika kotbah di hari jumat mereka para ustadz menyodorkan ayat diatas untuk mengakhiri nasehatnya. Seharusnya ayat tersebut di gunakan untuk menasehati non muslim atau orang kafir dan jika di ingatkan tetep ngeyel atau bersikeras maka barulah di sodorkan ayat tersebut. Maka katakan kepada mereka non muslim tersebut “Lana a’maaluna walakum a’maalukum” artinya (bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu).

Tapi yang membuat penulis tidak habis pikir dan sangat memprihatinkan kebanyakan orang yang menyodorkan terjemahan ayat diatas atau memotong ayat tersebut ketika Kutbah di hari jumat. Untuk menyanggah krpafa sesama muslim yang beda pendapat Adalah ustadz/kiay yang membela bidah atau yang mati-matian ngamalin amalan tradisi padahal telah jelas jika di tinjau dari Alqur’an maupun hadits amalannya sudah menyelisihi sa’riat islam. La kok malah mereka/ahli bid’ah bilang demikian. Tidak nyambung.

Comment

tags:

Populer post