12 Rabiul Awwal 1440 H

Telah kritis dalil tentang bermanhaj.

Kategori Kritikan
Di lihat 319 kali

Hits: 44

Telah kritis dalil tentang bermanhaj.
Oleh: DWIWAP.COM

Allah Berfirman yang artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, serta ulil amri diantara kalian. Jika kalian berselisih dalam suatu hal, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-nya. Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (QS. An Nisa: 59

QS. An Nisa: 59 tersebut memang memerintahkan untuk mencontoh dan mengikuti Allah, Rosul, sahabat Rosul dan para Salafush Shalih, dalam hal tata cara beribadah.

Oleh para ulama yang tegar di atas tauhid dan sunah di tafsirkan menjadi bermanhaj, mungkin maksutnya untuk mempermudah mencirikhas kan antara Aqidah Si A, Si B dan seterusnya. Namun kata “aqidah” ini hanyalah hasil karya manusia tidak perlu di taqlid-i, semua itu tidak ada dalam qur’an. Kata akidah hanya membuat makin terpecah umat islam, yang satu mengatakan Beraqidah A, yang satu lagi mengatakan beraqidah B, dan yang satu lagi mengklaim beraqidah C, dan begitu seterusnya.

Penulis sebenarnya tidak masalah dengan penyebutan kata bermanhaj untuk sebutan mengikuti Nabi, sahabat Nabi, tabiin, tabiut. Namun penulis tinjau tidak sedikit semua itu membuat yang bermanhaj berubah menjadi fanatik terhadap ulama ini dan itu, seperti halnya pengikut islam golongan yang fanatik terhadap ulama-ulama tertentu, mazab tertentu.

Penulis sedikit tidak setuju, namun bukan berarti penulis mengingkarinya kenyataan tersebut, namun penulis rasa tidak harus mengatakan bermanhaj salaf atau menafsirkan demikian. Otomatis yang namanya muslim/islam sudah pasti mencontoh mereka, menjadikan pelajaran perjalanan mereka, namun tidak lah perlu harus menonjolkon diri dengan mengatakan ana bermanhaj salaf, jika demikian yang di terjadi lalu apa bedanya dengan mereka yang bermazab ini-itu, bergolongan ini-itu, berfanatik buta terhadap ulama ini-itu dan sejenisnya.

Intinya begini dalam ayat dan terjemahan di atas kita di suruh mengikuti, namun mengikuti yang di maksut bukan harus dengan cara taqlid dan fanatik seperti pengikut islam golongan terutama golongan mayoritas atau yang terbesar saat ini, mereka mengikuti tanpa mau tahu dasar dan alasannya ulama tersebut membuat suatu perkara, mengikuti yang di maksut bermakna ikuti selagi tidak menyimpang dari sariat islam, menjadikan karya-karya kitab buatan mereka/ulama terdahulu untuk mempermudah mempelajari atau memahami islam, bukan untuk di jadikan kitab tandingan Alqur’an seperti pengikut islam golongan  yang terbesar saat ini. Siapa golongan terbesar yang penulis maksut? tentunya anda yang lebih tahu.

Penulis rasa tiidaklah harus menonjolkan diri/membuat ciri khas seperti pengikut islam golongan yang mengatakan bermazab ini dan itu, ikuti ulama ini dan itu dan sejenisnya. LABEL yang paling benar kita sandang adalah MUSLIM. karena Allah menyebut kita seperti itu, bukan nama-nama yang dibuat oleh manusia dengan maksud/dalih menghormati atau mengagungkan ulama tertentu… tidak kurang dari 17 ayat dalam berbagai surat Allah Swt menyebut kita muslim.

Cukuplah islam/muslim setelah itu aplikasikan pengakuan muslim/islam saudara-saudari, ikuti dua petunjuk alquran-hadist dan sedikitpun jangan menyimpang dan menyelisihi dari dua petunjuk tersebut, maka dengan otomatis kita/anda dan saudara-saudari akan teraplikasikan sendiri sesui dalam QS. An-Nisa: 59 tersebut.

Bermanhaj itu hanya metode untuk membedakan atau untuk membuat ciri khas, namun saya rasa tidak harus demikian. kita semua memang wajib mengikuti Salafush Shalih, namun tidak harus mengklaim dan menonjolkan diri dengan mengatakan bermanhaj salaf.

comments

tags: