12 Sya'ban 1440 H

Halal dan haram.

Kategori Kritikan
Di lihat 634 kali

Hits: 61

Oleh: DWIWAP.COM

Umat islam yang menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal mayoritas islam ktp, munafik, musrik, ahli bid’ah dan dan sebagian mereka mengikuti ulama SUU atau ulama yang condong mengutamakan kitab yang tidak suci, mengutamakan kitab buatan manusia dari pada kitab Alqur’an, mereka jadikan kitab-kitab/buku buatan manusia seolah-olah kitab tandingan Alqur’an. Inilah pembodohan yang saat ini terjadi.

Seharusnya kitab-kitab, buku-buku dan fatwa-fatwa para ulama di jadikan untuk memahami islam, namun ironisnya mereka jadikan hukum, seolah-olah itu hukum Allah padahal telah jelas, Allah menyuruh mengikuti ulama bukan untuk menuhankan mereka. Dan jika ada perbedaan suruh mengembalikan kepada Allah dan rosulnya. Namun kenyataan dan ironisnya malah mereka kembalikan ke apa kata manusia.

Sedikit contoh menghalalkan yang haram,
Yaitu menghalalkan rokok, menghalalkan bid,ah/kesesatan yang tiada ketara, menghalalkan pacaran (anaknya di bawa laki-laki/di pacarin malah bangga), menghalalkan semua nyanyian dan musik, tidak peduli nyanyian dan musik tersebut mengajak kedalam kesesatan atau tidak. Yang sedang di bahas saat ini mengenai musik dan nyanyian.

Menurut penulis selagi nyanyian yang di iringi musik tersebut condong untuk meningkatkan iman dan takwa maka tidak apa-apa di dengar, yaitu selama nyanyian tersebut nadanya mengajak mengingat Allah, mengajak mengingat mati, mengajak merendahkan diri, mengajak mengingat dosa, dan sejenisnya, maka sesekali boleh di denger nyanyian tersebut. Tapi jangan keseringan.

Penulis tidak menghalalkan musik secara total. Mendengar musik atau nyanyian yang di bolehkan yang penulis maksut diatas harus tau aturan, tempat dan kondisi/keadaan. Tidak boleh di nyanyi-nyanyi di masjid, mushola, sudah teriak-teriak tidak jelas, lagunya pun tidak sedikitpun untuk mengajak mendekatkan kepada Allah, yang ada malah mengganggu orang yang mau berzikir dan sholat sunnah, orang mau sholat sunnah dan berzikir jadi tidak kosentrasi, karena mendengar nyanyian-nyanyian tersebut. Namun mau alasan apapun tidak di benarkan nyanyi-nyanyi di masjid/mushola. Masjid atau mushola bukan untuk nyanyi-nyanyi tapi untuk sholat, berzikir, mengaji/dakwah, untuk baca Qur’an dan sejenisnya. Dan berzikir dan baca Qur’an pun tidak boleh pake speker cukup diri kita saja yang denger. Tidak ada dalilnya/perintahnya berzikir berjamaah, dan berzikir dengan suara kencang.

Dan nyanyi-nyanyi setiap habis adzan/sebelum azan, seperti nyanyi bersholawat nariyah dan sejenisnya itu bid’ah tidak pernah diajarkan Rasulullah yang ada meniru-niru orang Nasrani nyanyi-nyanyi di greja, selain indentik orang kafir juga mengganggu orang berkosentrasi di masjid/musholla.

Mendengar musik/nyanyian boleh-boleh saja, misal dalam radio ketika jedah habis acara tausiyah, atau sesekali di dalam ketika habis mendengar ceramah yang ilmiah untuk menghilangkan ketegangan. Atau berlaku ketika tidak ada yang lain yang di dengar selain nyanyian tersebut, namun jika ada pilihan lain yang lebih bermanfaat dalam hape/radio/televisi yang ingin anda ada putar seperti ceramah/murattal ples terjemah dan tilawah maka tinggalkan nyanyian-nyanyian tersebut. Utamakan yang mendengar yang ada perintahnya.

Ya begitulah saat ini yang telah terjadi di dalam masyarakat. Itu semua akibat beragama hanya bermodal taqlid buta. Yang penting ngikut/mengikuti. Yang ahli bidahnya menghalalkan total musik/nyanyian, yang salafi memvonis mengharamkan total musik dan nyanyian.

Selama nyanyian tersebut mengajak mengingat Allah, mengingat mati, mengingat atas nikmat-nikmat Allah, dan sejenisnya itu tidak haram. Contoh nyanyian obat hati, sepohon kayu, bermata tapi tak melihat dan sejenisnya. Semua itu tidak haram karena mengingatkan atas kebesaran Allah. Namun alangkah baiknya nyanyian tersebut tidak di iringi musik.

Nyanyian haram. Itu benar seluruh ulama terdahulu yang berpegang teguh dengan dua pentunjuk sepakat mengharamkan, namun nyanyian/musik seperti apa yang di haramkan?..

Contoh menghalalkan yang haram, Seperti: mengharamkan memelihara anjing dan menajiskan dan sejenisnya…

Untuk bisa memahami apa yang penulis maksut saratnya mudah keluar dari fanatik mazab, manhaj atau ulama ini-itu, cukup menjadi muslim saja, selama fanatik buta terhadap ulama ini dan itu dan mengklaim ana salafi atau ana bermanhaj salaf atau ana bermazab ini dan itu selama itu juga pemikiran akan di perbudak wawasan dan pengetahuan sebatas katanya-katanya yang tidak berkembang.

Mohon maap tulisan ini masih belepotan. Nanti lain waktu dan kesempatan di perbaiki jika tidak lupa. Dan dalam tulisan ini penulis tidak berusaha melegalkan nyanyian dan musik dan juga bukan membela ahli bid’ah. Bersambung…

Comment

0Shares
tags:

Populer post