19 Zulhijjah 1440 H

781 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Oleh: Dwiwap.com

Berikut ini hanya cerita yang berbau kritikan bukan berbangga atau sejenisnya.

Di Indonesia negri yang kita cintai ini sangat banyak sekali firqoh-firgoh golongan dalam Islam, mungkin tidak sedikit diantara pembaca yang tidak tahu, karena prinsip pembaca mayoritas yang penulis jumpai mayoritas condong taqlid dan fanatisme, mereka yang condong taqlid dan fanatik sudah pasti jarang ada yang punya rasa ingin tahu pengetahuan lain yang di luar yang di ketahui, karena mereka mayoritas rata-rata mencukupkan dari pengetahuan yang di dapat dari gurunya, kiaynya dan sejenisnya, sedangkan ilmu yang di dapat dari sang guru atau kiaynya rata-rata di dapatkan dari katanya-katanya dan mayoritas tidak melihat dasar dan alasan orang terdahulu membuat sebuah hukum atau perkara atau istijhad atau fatwa. Akhirnya muridnya yang condong taqlid atau mengikuti tanpa melihat dasar dan alasannyapun makin condong taqlid buta.

Ini sebenarnya bukan bahas mengenai taqlid buta dan fanatik buta tapi membahas mengenai golongan dalam islam yang biasa masyarakat sebut wadah atau ormas islam. Namun mengapa penulis sedikit menyinggung mengenai taqlid, karena orang taqlid condong menutup diri dan tidak ada rasa ingin tahu pengetahuan yang di luar yang di ketahui atau yang di ajarkan gurunya yang di dapati, dan rata-rata mereka menutup diri.

Dulu orang awam dari yang berpendidikan tinggi maupun rendah dari ketika penulis kecil, remaja, dewasa hingga tua ini terakhir sekitar tahun 2017-an orang-orang kebanyakan taunya golongan Nu dan Muhammadiyah. Ketia menjelang ramadhan dan idul fitri pasti diantara mereka ada yang bertanya atau pasti kita jumpai kata-kata ”kamu ikut Muhammadiyah atau Nu” Itupun mayoritas mereka menyebut nya organisasi atau wadah. Dan penulis pun mengenal atau mengetahui golongan ini-itu juga belum lama, dulu taunya hanya Nu dan muhamadiyah dan mungkin sekitar tahun 2007-2009-nan penulis baru tau golongan ini-itu, sebelumnya penulis juga masa bodoh atau seperti kebanyakan masyarakat atau orang-orang yaitu tidak ada rasa ingin tahu, atau yang penting makan kenyang dan beribadah ritual tanpa contoh, ikuti apa kata kebanyakan orang dan sejenisnya. Namun bedanya, kalau penulis meskipun seperti itu, sudah mampu mengingkari bid’ah dari kecil namun baru mampu mengingkari dalam hati, karena belum mampu mengingkari secara terang-terangan seperti sekarang ini.

Namun terhitung sejak awal 2002-2004 sudah mulai rasa ingin tahu, yaitu jika menonton tv pasti cari chenel yang berbau ceramah atau berita-berita islam, namun jika tidak ada yang berbau ceramah islam baru cari acara yang lain seperti yang berkaitan dengan inspirasi dan motivasi seperti acara mario teguh, kick andy, dan sejenisnya. Begitupun jika dengar radio selalu rasa ingin tahu, penulis telusuri seluruh chenel dalam radio di cari yang berbau islami, namun ketika itu ceramah-ceramah belum begitu banyak seperti sekarang ini, kalaupun ada dulu yang banyak penulis jumpai dakwah itu di radio-radio dangdut, namun ketika itu penulid belum begitu peduli dengan bid’ah. Dalam radio dangdut tersebut setiap habis subuh atau sebelum subuh atau sebelum magrib atau sesudah magrib penulis menyimak ceramah-ceramah melalui nya. Ketika itu dakwah tauhid dan sunnah belum penulis jumpai mungkin sudah ada namun ketika itu penulis belum menemuinya karena siaran dakwah tauhid dan sunnah belum begitu banyak seperti sekarang ini. Penulis ketika itu sering menyanggah atau memberontak dalam hati, karena setiap habis nyimak ceramah, penulis cocokkan dalam buku yang penulis miliki sejak Mi kelas 6 yang ngambil dari koleksi buku pakde penulis yaitu yang berjudul ”bid’ah yang sering terjadi dalam masyarakat”.

Namun subhanallah sekarang dawah sunah dan tauhid sudah menyebar di seluruh pelosok indonesia bahkan media-media dakwah di tv yang menggunakan parabola mayoritas di penuhi tv dakwah sunnah. Jadi sangat mempermudahkan bagi seorang yang ingin mendapatkan hidayah sunnah untuk belajar menggali ilmu atau mencari tau ilmu yang di luar yang di ketahui. Di tambahkan media-media radio dan internet, itu semua sarana yang di kehendaki Allah utuk mempermudahkan manusia menuntut ilmu atau mencari hidayah sunnah. Jadi media bukan bid’ah.

Terhitung sejak awal 2012 penulis mulai menemukan chenel dakwah sunnah yang sebelumnya hanya taunya radio dangdut yang ketika magrib dan subuh ada dakwahnya, namun penulis tidak munafik dulu penulis pun masih suka musik dan nyanyian, musik/nyanyian yang penulis sukai yaitu dangdut kenangan, pop kenangan dan yang paling penulis sukai dari kecil yaitu kosidah gambus seperti yang berjudul ”dulu dan kini” dan sejenisnya, dan penulis juga senang dengan beberapa musik roker seperti tip-x, jamrud dan bomerang.

Terhitung sejak awal 2015-an penulis perlahan-lahan meninggalkan musik, hingga saat ini, namun sesekali penulis mendengarkan musik kosidah yang bernada menyemangati hidup, seperti mengingat Allah, mengingat nikmat-nikmat Allah, mengingat kematian, mengingat dosa dan sejenisnya. Inilah salah satu perbedaan penulis dengan manhaj salaf. Manhaj salaf/salafi mengharamkan total musik dan nyanyian penulis setuju dan mendukung. Namun penulis ber- ijtihad sendiri bahwa tidak semua nyanyian haram, namun musik haram, namun bagaimana menghindari musik, lawong setiap nyanyian ada musiknya, dan ijtihat penulis tersebut tidak niru-niru, tidak terkena subhat dan tidak sejenis nya. Namun bukan berarti argumen penulis yang mengatakan tidak semua nyanyian haram itu untuk mendukung ahli bid’ah atau menguatkan argumen ahli bid’ah terutama dari golongan Nu untuk menghalalkan nyanyian dan musik. Bahkan tidak sedikit penulis jumpai mereka mendirikan majelis yang di isi dengan nyanyi-nyanyi an. Bahkan ada yang namanya majelis menggunakan nama Rasulullah yaitu majelis Rasulullah namun ironisnya isinya nyanyi-nyanyi Nauzubillah. Demi Allah itu pembodohan. Itu semua akibat dari taqlid buta.

lanjut, terkait islam golongan yang ingin penulis bahas adalah terkait radio fajri. Namun ternyata di atas penulis telah banyak dengan bercerita dahulu.  Mungkin di antara pembaca pernah dengar tentang salah satunya radio yaitu radio fajri. Mungkin pembaca pernah dengar cerita dari orang atau pernah mendengar siarannya secara sepintas atau full, ceramah-ceramah tersebut rata-rata menurut penulis mayoritas ilmiah, karena penulis hobi mendengarkan berbagai radio dakwah namun penulis tidak selalu menelan mentah-mentah seluruh fahamnya namun penulis condong mengoreksi mana yang ilmiah dengan yang tidak ilmiah meskipun penulis tidak bisa atau belum tentu bisa berbicara di publik seperti mereka.

Namun setelah penulis koreksi ceramah-ceramah atau siaran-siaran nya dalam fajri masih condong kedalam islam golongan yang mendekati tauhid dan sunnah. Seperti masih ada nyanyi-nyanyi nya, intinya masih sedikit ada ketradisi-tradisinya dan sejenisnya.

Sejak awal dari tahun 2012-an penulis mulai mendengar radio fajri namun ketika itu masih jarang mendengarnya, mulai sering mendengar akhir 2017 hingga sekarang.

Namun tahukah pembaca siapa pemilik Radio fajri tersebut. Banyak dari kalangan yang hampir sepaham dengan penulis yaitu dari kalangan manhaj salaf/salafi bertanya: Radio apa yang mas sering dengar, penulis jawab radio rodja, radio ismail, radio muslim dan mereka jawab bagus, dan penulis tambahkan lagi, radio fajri. Langsung mereka jawab radio fajri ada nyanyi-nyanyinya, dengan nada kurang setuju. Namun sebenarnya masih ada beberapa radio lagi yang sering penulis dengar seperti radio persada punya golongan Mta dan ada beberapa lagi yang tidak bisa penulis sebutkan.

Namun tahukah anda siapa pemilik radio fajri tersebut? Penulis yakin banyak yang tidak tahu, yang mereka tahu mayoritas mereka adalah ahlussunah dan ada juga yang bilang salafi terpecah menjadi 3 dan salah satunya faham fajri ada juga yang bilang wahabi sama halnya dengan faham radio rodja. Semua itu mereka dapat dari katanya-katanya. Apalagi mengatakan salafi terbagi menjadi 3 ini tidak benar, memangnya salafi itu kelompok atau golongan? Kok bisa terpecah. Mereka bukan kelompok/golongan namun mayoritas mereka yang fanatik buta seperti hal pengikut Islam golongan terutama seperti golongan Nu nya. Maka dari itu mereka sebagian salafi, penulis sebut tidak jauh bedanya dengan pengikut Islam golongan.

Tahukah anda siapa pemilik radio fajri tersebut? Penulis pun sering bertanya-tanya, penulis sempat bekerja di wilayah kecamatan taman sari Bogor di deket radio fajri sekitar tahun 2017 akhir, dan bos penulis termasuk salah satu majelis di radio fajri, mereka bertanya juga ”apa sama mas kaya gitu ustadz-ustadz fajri dengan rodja”, penulis jawab kayaknya sama, padahal penulis juga tidak tau dan penulis yang ingin bertanya, namun malah keduluan di tanya. Itu semua menunjukkan bahwa banyak yang tidak tau sekalipun seseorang rutin bermajelis dengan mereka, dan masih banyak lagi yang menunjukkan bahwa banyak yang tidak tau siapa di balik yang berdakwah di radio fajri yang cearamah-ceramahnya mendekati ilmiah tersebut.

Tenyata setelah penulis kumpulkan seluruh golongan yang di resmikan oleh Mui yang mereka namai lembaga, dakwah atau organisasi, akhirnya penulis baru ngeh ternyata di situ ada nama Hasmi, sebelumnya penulis sudah baca di website radio fajri namun ketika itu penulis tidak ngeh, karena belum mengetahui semua golongan yang sudah di resmikan oleh ketua nya yaitu Mui. Setelah penulis  ngeh ternyata radio fajri milik dari golongan Hasmi (Harakah sunniyyah masyarakat islami) yaitu salah satu golongan yang mendekati sunnah seperti Al-Irsyad, persis, muhamadiyah, mta dan sejenisnya.

Golongan hasmi ini sepintas hampir sama dengan golongan lain yang mendekati sunnah ada beda faham dikit namun tidak terlalu parah seperti golongan lain yang mengklaim adanya bid’ah hasanah. Namun semua golongan tersebut rata-rata sudah banyak yang keluar dari golongannya dan menjadi manhaj salaf/salafi. Jika penulis tanya atau cari tau mayoritas mereka yang golongan mendekati sunnah seperti Al-Irsyad, persis, Muhammadiyah, mta dan sejenisnya rata-rata sudah banyak yang keluar dari golongannya dan menjadi manhaj salaf/salafi, namun diantaranya juga masih banyak prngikut manhaj salaf yang terjebak fanatik buta tidak jauh bedanya dengan pengikut islam golongan terutama seperti Nu dan sejenisnya. Dan penulis mengartikan manhaj salaf yaitu cukup muslim dan mengikuti orang-orang terdahulu yang tidak menyelisihi syariat islam. Faham penulis dengan Salafi hampir sama, namun sedikit beda faham, letak perbedaan nya liat di motto dan artikel yang berjudul ”saya cukup islam”, ”nasihat imam syafii yang penulis luruskan” dan lainnya.

Comment

tags:

Populer post