16 Syawwal 1440 H

Fanatik dan taqlid.

Kategori Kritikan
Di lihat 1121 kali

52 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Oleh: DWIWAP.COM

Fanatik adalah perilaku yang menunjukkan ketertarikan terhadap sesuatu secara berlebihan. Bisa dikatakan seseorang yang fanatik memiliki standar yang ketat dalam pola pikirnya dan cenderung tidak mau mendengarkan opini maupun ide yang dianggapnya bertentangan.

Semua ini penulis jumpai di mayoritas orang dan mayoritas umat islam atau kebanyakan, karena mereka condong fanatik ke ulama tertentu, fanatik ke golongan tertentu, fanatik ke mazab tertentu, dan fanatik ke manhaj tertentu. Bahkan itu semua bukan hanya di katakan fanatik, tapi bisa di sebut fanatik buta.

Kenapa di sebut fanatik buta karena mereka condong keras ke golongan tertentu, mazab tertentu dan manhaj tertentu dan menutup rapat-rapat telinganya dan mata hatinya dari opini/ide yang di anggap nya bertentangan.

Selagi condong membela yang benar sesuai sariat yang di tentukan Allah dan Rosulnya dan tidak condong ke golongan tertentu, mazab tertentu dan manhaj tertentu, itu namanya bukan fanatik. Kalau toh anda mau mengklaim fanatik juga. Maka saya katakan fanatik buta hanya boleh kepada Allah dan Rosulnya.

Dan taqlid yaitu keyakinan suatu faham pendapat ahli hukum yang terdahulu yang di percaya namun seseorang tersebut tidak mau melihat dasar alasan ahli hukum tersebut membuat suatu perkara. Taqlid tidak boleh, ini berlaku bagi yang awam maupun tidak, yang boleh itiba’ kalau toh mau ngeyel tetep mau taqlid. Taqlidlah dengan hal yang di sariatkan oleh islam Yaitu taqlid kepada Alqur’an dan hadits yang sahih, atau taqlid kepada Allah dan rosulnya, tidak boleh taqlid ke hal yang menyelisi sariat islam dalam kata lain di larang taqlid, taqlid bisa mematikan kreativitas ketajaman hati dan ketajaman pikiran.

Kenapa bisa di sebut taqlid buta karena seorang itu benar-benar keras kepala memegang teguh tradisi-tradisi yang di campurkan ke dalam syariat islam oleh orang terdahulu yang mereka yakini dan bersikeras mempertahankan pemahaman tersebut dan bersikeras mengklaim adanya bid’ah hasanah ini juga bagian dari akibat taqlid buta.

Agama islam memerintahkan para pemeluknya untuk mengikuti dalil dan tidak memperkenankan seorang untuk bertaklid kecuali dalam keadaan darurat (mendesak), yaitu tatkala seorang tidak mampu mengetahui dan mengenal dalil dengan pasti. Hal ini berlaku dalam seluruh permasalahan agama, baik yang terkait dengan akidah maupun hukum (fikih).

Oleh karena itu, seorang yang mampu berijtihad dalam permasalahan fikih, misalnya, tidak diperkenankan untuk bertaklid. Demikian pula seorang yang mampu untuk meneliti berbagai nash2 syari’at yang terkait dengan permasalahan akidah, tidak diperbolehkan untuk bertaklid. (pendapat ini yang di taqlid-i oleh mayoritas umat islam, padahal itu semua hanyalah pendapat manusia biasa).

Sikap taqlid buta terhadap suatu pemikiran, seperti kepada madzhab, kepada prinsip organisasi atau ormas, kepada tradisi, juga taqlid kepada tokoh tertentu seperti kepada ulama tertentu, kepada tokoh jihad tertentu, kepada nenek moyang, atau kepada orang yang dianggap mulia, ini dapat menghalangi seseorang untuk mengikuti dalil dan mengetahui kebenaran. Hal ini disinggung dalam Al Qur’an:

Dan apabila dikatakan kepada mereka :
Ikutilah apa yang telah diturunkan Alloh! Mereka menjawab :(TIDAK), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (PERBUATAN) nenek moyang kami. Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?(Qs. Al-Baqarah:170).

Bersambung..

Comment

tags:

Populer post