13 Zulqaidah 1440 H

186 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini


Oleh: DWIWAP.COM

Tidak ada untuk saling menghargai dan menghormati sedikitpun dalam hal pembodohan, kebid’ahan dan kemusrikan. buka kurung dalam hal kesesatan. Jangan sekali-kali mau di ajak dalam hal kesesatan/kebidahan dengan alasan menghormati atau menjaga hubungan biar tetap baik atau biar tidak di benci.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Artinya: Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak (manusia) kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun

Ada hadits yang serupa dengan hadits di atas, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَنَّ فِـي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ ، وَمَنْ سَنَّ فِـي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِـّئَةً ، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

Artinya: Barangsiapa yang memberi teladan (contoh) perbuatan yang baik, ia akan mendapatkan pahala perbuatan tersebut serta pahala orang yang mengikutinya (sampai hari kiamat) tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang memberikan contoh kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa perbuatan tersebut serta dosa orang-orang yang mengikutinya (sampai hari kiamat) tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.

Kesimpulan dari hadits tersebut bernada kita tidak boleh saling tolong menolong dalam hal keburukan atau kesesatan, tidak boleh saling menghargai dalam hal kebid’ahan/kesesatan dan tidak boleh saling menghormati dalam hal kesesatan kecuali dalam perkara yang tidak menyelisihi sa’riat islam.

Penulis tegaskan kepada saudara dan saudari, muslim/muslimah semuanya yang benar-benar berjalan dalam islam yang kaffah atau keseluruhan lebih baik di benci, di asingkan, di kucilkan dan di sejenisnya dari pada menghormati dan menghargai mereka melakukan kesesatan terutama kepada golongan mayoritas di indonesia, siapa golongan mayoritas tersebut, tentunya pembaca yang lebih tau.

Golongan yang mayoritas itu isinya mayoritas ustadz Suu dan munafik namun sebagian ada juga yang tidak suu dan munafik, begitupula pengikutnya mayoritas munafik, namun tidak semua munafik, yang ada perintahnya dari Allah dan ada contohnya dari Rosul mereka abaikan, mereka tinggalkan, mereka pandang sebelah mata, dan tidak mereka hiraukan, seperti contoh kecil mendengar tilawah, mendengar murattal ples terjemahannya dan mendengar berbagai ceramah-ceramah yang ilmiah mereka alergi mendengarnya tapi melakukan bid’ah atau kesesatan atau mungkin dengar musik atau nyanyi-nyanyian atau mungkin amalan ritual-ritual bid’ah mereka senang dan mereka utamakan inilah pembodohan yang nyata di kalangan mayoritas pengikut islam golongan, terutama di golongan mayoritas di indonesia.

Berikut ini salah satu dalil berkaitan dengan yang ada perintahnya yang penulis maksut seperti: mendengar tilawah, mendengar Murattal ples terjemahannya. Allah Berfirman:
وَ إِذا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dan apabila dibacakan Alquran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat. (QS. Al-A’raf 7: 204).

Mayoritas mereka jika di lihat dalam masyarakat mereka semua terlihat seperti orang alim berpakain islami, rutin bermajelis taqlim, namun tidak sedikit penulis jumpai yang di ajarkan ustadz nya dalam majelis tersebut bukan untuk mengajak mentauhidkan Allah tapi sebaliknya mengajak menyelisihi Allah dan rosulnya. Bagaimana tidak! Mereka para ustadz nya kebanyakan atau mayoritas hanya mengajarkan masalah ritual bid’ah dan majelis ta’lim nya pun majelis yasinan atau tahlilan bukan majelis ilmiah yang membahas Qur’an dan sunnah. Yang mereka bahas biasa nya mengajarkan untuk bisa menjadi pemimpin tahlilan, yasinan dan sejenisnya yang bersifat bid’ah.

Alhasil jika murid tersebut sudah bisa, mereka terjun ke dalam masyarakat awam, lalu menjadi pemimpin tahlilan, yasinan dan sejenisnya, alhasil masyarakat awam menganggap mereka ustadz, kiay, dan sejenisnya. Namun sebenarnya dalam segi wawasan agama dan pengetahuan nya tidak sedikit penulis jumpai tidak seberapa, sekalipun mereka sekolah tinggi, mondok puluhan tahun, tidak sedikit penulis jumpai pengetahuan dan wawasan hanya sebatas taqlid buta, fanatik buta, katanya-katanya dan sebatas pemahaman bid’ah. Penulis memahami ya itulah pemahaman yang mereka dapat karena mereka tidak menjadikan kitabullah dan sunnahnya sebagai tolok ukur, tapi yang mereka jadikan tolok ukur mereka yaitu kitab ulama-ulama yang mereka rujuk, lalu seolah-olah mereka jadikan tandingan kitab suci alqur’an.

Maap apa yang penulis ucapkan ini kenyataan, bukan dalam rangka benci atau mungkin anda anggap iri, dengki dan sejenisnya dengan golongan mayoritas atau dengan golongan lainnya yang menghalalkan bid’ah/mengklaim adanya bid’ah hasanah.

Sekali lagi mohon maap ini bukan dalam rangka menggibah atau mengolok-olok. Ini hanyalah sedikit kritikan, perkataan penulis mayoritas blak-blakan bukan berarti penulis tidak punya etika atau tidak mengutamakan akhlak. Penulis menyadari belum tentu lebih baik dari mereka dalam hal segi ketaatan dan keimanan, namun seenggak-enggaknya penulis sudah menyadari siapalah diri ini, (liat di propil), dan juga seenggak-enggaknya penulis mengetahui mana yang HAK dengan mana yang batil. Dan juga setidaknya penulis yang belum mampu mengerjakan yang wajib dengan sempurna dan melaksanakan sunnah dengan penuh, namun setidaknya penulis tidak menomor duakan yang wajib dan sunnah.😊🙏

MOHON MAAP BUAT AHLI BIDAH YANG RENDAH HATI MASIH MAU MENGINGKARI KEBIDAHAN NAMUN HANYA MAMPU MENGINGKARI DALAM HATI, DAN TIDAK PERNAH JELEK-JELEKIN UMAT MUSLIM MINORITAS DENGAN SEBUTAN WAHABI, DENGAN TUDUHAN: SEPERTI WAHABI SUKA MENGKAFIR-KAFIRKAN, MEMBID’AH-BID’AHKAN, MENYESAT-NYESATKAN DAN SEJENINYA, SARAN PENULIS JANGAN TERSINGGUNG BACA TULISAN INI. INI HANYA UNTUK MENYANGGAH SEBAGIAN AHLI BIDAH YANG HOBI JELEK-JELEKIN DAN BODOHIN DIRI/NUNJUKIN PEMBODOHAN KEPADA DAKWAH TAUHID DAN SUNNAH, TERUTAMA DARI GOLONGAN MAYORITAS NYA YANG BANYAK PENGIKUTNYA CAMKAN TULISAN INI. PRINSIP PENULIS MENDING KERAS MEMPERTAHANKAN ATAU MEMBELA KEBENARAN YANG HAK DARI PADA KERAS MEMPERTAHANKAN KEBENARAN YANG SEMU ATAU KESESATAN YANG TIADA KETARA.

PENULIS BUKAN SALAFI ATAU WAHABI YANG KALIAN MAKSUT. ATAU MUNGKIN GOLONGAN BARU YANG MENDEKATI KAFFAH SEPERTI MUHAMADIYAH, PERSIS, ALIRSYAD DAN MTA. TAPI PENULIS TIDAK SUKA DENGAN AHLI BID’AH MEMBODOHIN DIRI DAN NUNJUKIN PEMBODOHAN DAN MENGADA-NGADA DAN MELEBIH-LEBIHKAN ALIAS MEMBUAT ARGUMEN/CERITA DUSTA. BUAT BAHAN CINTOH LIHAT CERAMAH-CERAMAH USTADZ IDRUS RAMLI, GUS NUR, BUYA YAHYA, CAK NUN, ABDUL SHOMAD, HABIB RIZIK DAN SEJENISNYA PENUH DUSTA RATA-RATA/HASIL KATANYA-KATANYA, TENTUNYA CERAMAH YANG BERKAITAN TENTANG MENGKRITIK WAHABI. TERUTAMA IDRUS RAMLI, LIAT BUKU KARYA IDRUS RAMLI PENUH CERITA DUSTA/PLINTIRAN SEMUA DISITU.

Comment

tags:

Populer post