12 Rabiul Awwal 1440 H

Hits: 85

Bid’ah itu kesesatan yang tiada ketara.
Penulis: DWIWAP.COM

Bidah=kesesatan yang tiada ketara= mematikan sunah bahkan yang wajib. Kenapa banyak penggemarnya dan banyak yang menyukainya?

Penulis seorang yang sangat keras menentang bid’ah dan melawan arus balik faham di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas taqlid buta dan fanatik buta yaitu kepada mayoritas pengikut islam golongan terutama golongan yang paling mengklaim aswaja dan teriak-teriak nkri harga mati tersebut.

Penulis tau akibatnya. Jika menetang bidah/kesesatan yang tiada ketara yaitu di benci, tidak di sukai atau sejenisnya. Namun penulis akan terus mengembangkan faham ini yang betul-betul sesuai yang ada perintah Allah dan rosulnya. Mungkin yang harus di perbaiki oleh penulis adalah ahlak dalam penyampaian. Karena penulis menyadari penyampaian yang tidak baik maka yang ada bukan merangkul mereka namun justru sebaliknya.

Namun apapun alasannya penulis tetap tidak akan sedikitpun menghormati dan menghargai orang-orang yang mengerjakan bidah. Tidak ada untuk saling menghargai dan menghormati dalam kesesatan, penulis akan tetep menjalankan aktivitas seperti biasa walaupun di depan mata penulis ada yang melakukan bidah seperti sedang mengadakan tahlilan, maulidan, dan sejenisnya. 

Jika mereka mengajak kedalam majelis atau pengajian yang menyakut bidah atau mungkin ngajak tahlilan, maulidan, haulan, syawalan dan sejenisnya. Penulis katakan kepada mereka dengan tegas. Maap itu amalan tradisi tidak usah di kerjakan utamakan kerjakan yang ada perintahnya dari Allah maupun rosulnya.

Anda kerjakan yang tidak tidak ada perintahnya, anda tidak dapat pahala yang ada dosa, karena amalan tersebut tertolak, karena rosul hanya mengikuti apa yang di wahyukan dan di perintahkan Allah, dan rosul pun mengatakan setiap amalan yang tiada contohnya dari kami itu sesat dan sesat tempatnya di neraka, kalau yang ada perintah nya anda kerjakan sudah jelas dapat pahala. Pilihan di tangan anda penulis hanya mengingatkan barang kali lupa.

Jujur penulis tidak suka dengan amalan bid’ah dan kepada pelaku bid’ah. Karena semua itu membodohin diri, membuat munafik sejati, membuat nunjukin pembodohan, mayoritas mereka pada umumnya pintar-pintar sekolah tinggi, mondok puluhan, di kuliahkan dan bertitle. Tapi mereka mayoritas membodohin diri dan nunjukin pembodohan.

Karena mereka condong taqlid buta, tidak mau mencoba berusaha menggali ilmu pengetahuan di luar yang di ajarkan oleh gurunya, kiaynya dan sejenisnya, membaca Qur’an pun hanya arabnya tidak dengan terjemahannya alasannya takut tersesat dan nalar tidak nyambung, mereka berkeyakinan membaca arab nya saja sudah dapat pahala untuk apa membaca dengan terjemahannya, padahal melalui membaca Alquran+terjemahannya dan berusaha memaknainya itu sangat di anjurkan karena di sana kita akan mendapat pengetahuan yang benar-benar sesuai tuntunan sariat islam, dan bahkan bisa menemukan pengetahuan-pengetahuan baru yang mungkin belum di temukan oleh ulama-ulama atau orang-orang terdahulu. Dan mereka mayoritas tidak suka menggali ilmu pengetahuan melalui membaca buku-buku dari berbagai macam buku, tidak hobi mendengar ceramah dari berbagai ustad dari golongan A hingga Z yang mereka dengar hanya yang mereka ikuti di majlis taqlim dan ustad yang ceramahnya nglawak, kalau tidak nglawak tidak suka, yang ceramahnya ilmiah dan tegas mereka tidak suka, ini sudah banyak sata jumpai di mayoritas umat islam. Dan terakhir mereka mayoritas tidak suka menggali ilmu melalui diskusi/perdebatan ilmiah Antara golongan A hingga Z atau diskusi agama melalui perbandingan.

Dengan seiringnya waktu dari jaman ke jaman akan semakin dikit yang membela kebenaran yang Hak, itu memang sudah terbukti, yang benar di asingkan dan yang sebaliknya malah banyak didukung.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntungnlah orang yang asing (HR. Muslim no. 145).

Ibarat Kata : !
Kalau kita sendirian di kampung, menjalankan Islam, akan merasa seperti orang yang terasing.
Kalau kita berjenggot di kantoran atau disebuah desa atau dimana, juga terasing. Kalau kita bercelana cingkrang di sekitar masyarakat yg mengutamakan amaliah bid’ah, juga terasing. Kalau di antara wanita ada yang menutup aurat sempurna bahkan sampai mengenakan cadar, juga kian terasing. Bahkan berakhlak jujur, ingin mengikuti ajaran sesuai tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan ingin menjauhi kemusrikan, sama halnya kian terasing. Itulah keterasingan islam yang hak saat ini. Namun tak perlu khawatir, berbanggalah menjadi orang yang asing karena membela agama Allah yang hak selama berada dalam kebenaran. Thuba lil ghurobaa. Penganut islam yang terasing di tengah umatnya yang banyak.

comments

tags: