13 Zulqaidah 1440 H

Bertemu salafi yang sok pintar.

Kategori Kritikan
Di lihat 597 kali

294 kali dilihat, 18 kali dilihat hari ini


Oleh: DWIWAP.COM

Penulis ingin cerita. Ini bukan gibah, tapi terserah pembaca mau cap apa. Langsung saja ya. Begini ceritanya, dulu setiap 3/4 bulan sekali atau kadang lebih, saya membeli buku-buku agama di cilengsi-bogor dekat radio rodja, kenapa penulis memilih membeli buku-buku di sana alasan nya karena:

1. karena harganya murah di banding tempat lain yaitu diskon 40%, makanya jika penulis beli buku disana tidak tanggung-tanggung membeli bukunya, terkadang 5 buah bukuan dan terkadang lebih, ya meskipun belum kebaca semua sebagian baru di baca judulnya, sebagian baru di buka-buka, sebagian baru di liat sampulnya heheūü§≠, intinya yang penting punya dulu atau buat koleksi dulu, suatu saat di baca semua, di aplikasikan dan di amalkan. Untuk saat ini mungkin belum bisa mengaplikasikan dengan penuh dan mengamalkannya dengan penuh juga, namun suatu saat pasti bisa. Tidak ada niat baik yang tidak bisa.

2. Buku-buku yang di jual disana, berfaham sesuai dengan Qur’an dan hadits, seperti masih berkaitan dengan faham yang biasa mayoritas sebut salafi, atau masih mendekati faham islam golongan yang mendekati tauhid¬† dan sunnah seperti: Al irsyad, muhamadiyah, mta, dan persis.

3. Sekalian main ke masjid albarkah atau ke radio rodja, meskipun penulis netral cukup muslim, bukan salafi, namun penulis mayoritas membenarkan faham mereka, dari pada yang tidaknya karena perbedaan nya sangat tipis.

Minggu kemaren terakhir penulis ketoko buku itu lagi kebetulan penulis dari rumah sudah kepikiran mau minta rekaman tilawah qur’an yang merdu dari rekaman ustadz muflih, salah satu ustadz muda dari salafi/manhaj salaf¬† yang sering di putar di rodja dan rekaman dakwah yang ilmiah seperti dari ustadz yazid, ustadz yahya badru salam dan ustadz lainnya.

Singkat cerita. Di tempat langganan penulis beli buku tersebut, setiap penulis beli buku di ceramahi oleh seseorang penjaga toko yang katanya bekas muridnya ustadz yazid, setiap penulis di ceramahi penulis merendah dan meng-iyakan setiap bait kata yang beliau ucapkan, namun minggu kemaren beliau lagi-lagi menceramahi, namun terlihat makin terliat sok, sombong dan makin memperlihatkan  ke angkuhan dan ke egoisannya, beliau penjaga toko tersebut, penulis amati condong nonjolin diri nunjukin sok pinter, kebetulan yang di ceramahkan itu tentang berkaitan mendidik anak yang rabbani. YANG BELIAU SARANKAN KE PENULIS: JANGAN BIASAKAN ANAK PEREMPUAN DARI KECIL PAKE KAOS KUTANG DAN CELANA DALAM SAJA. Kebetulan tentang hal itu penulis sudah tau karena penulis sering membaca, mendengar dakwah dari beberapa ustadz di rodja juga maupun lainnya, dan kebetulan masa kecil penulis juga penuh dengan kepahitan hingga dewasa karena ketidak tauan orang tua dalam tata cara mendidik anak yang benar, dari hal itu penulis mengambil pelajaran dalam tata cara mendidik anak yang benar dengan yang tidak benar, penulis juga mengamati dari orang-orang sekitar juga dari orang-orang yang berpendidikan tinggi dalam cara mendidik anak-anaknya dari yang benar maupun yang tidak benar penulis juga ambil pelajaran.

Lanjut ceritanya. Sebenernya penulis orangnya tidak menutup diri dari opini maupun pendapat orang lain, selama opini tersebut tidak untuk menyelisihi Qur’an dan hadits yang sahih, dan selama orang tersebut menyampaikan dengan tidak menyombongkan diri, sok pinter, dan sejenisnya biasanya penulis¬† akan merendah seolah-olah penulis tidak tau apa-apa, dan akan penulis dengarkan nasihat tersebut meskipun apa yang di nasihatkan sudah penulis tau di dalam kepala. Dengan catatan selama orang tersebut tidak sombong dan sok pinter dalam penyampaian. Inipun awalnya penulis juga merendah ketika di nasehati/di ceramahi oleh penjaga toko tersebut. Namun tidak tau kenapa penulis ingin sekali menyanggah apa yang di koar-koarkan nya.

Singkat cerita. Karena telinga makin tidak nyaman mendengarkan ceramahan karyawan toko tersebut, sebenarnya itu bukan ceramah tapi ocehan, beliau ingin menasehati, namun beliau tidak melihat siapa yang di nasehati dan tidak tau cara dalam penyampaian yang baik, sebenernya kata buat beliau yang cocok BERKATA YANG BAIK ATAU DIAM . Akhirnya terpaksa penulis juga mengeluarkan/kejebak dalam kesombongan penulis katakan ”saya sudah tau mas mengenai hal itu, bahkan saya juga sedikit nulis di website tentang yang mas katakan dan saya sudah banyak tau tentang hal yang mas sampekan juga, melalui membaca buku-buku, maupun melalui perjalanan hidup dan juga melalui ceramah-ceramah beberapa ustadz dari rodja salah satunya ustad Abdullahi zain yang di porbolinggo yaitu yang sering membahas tentang pendidikan anak yang islami”.

Singkat cerita penulis bilang lagi kepada beliau, ”saya juga menulis mas di website tentang yang mas sampaikan, namun tulisan masih banyak yang blepotan dalam pengaturan kata-katanya dan yang saya tulis rata-rata kritikan”. Penulis bilang ke karyawan toko buku tersebut, faham yang saya tulis di web yaitu condong melawan arus balik faham mayoritas”, penulis katakan seluruh pengikut islam golongan itu mayoritas dan salafi juga mayoritas dan anggap saja minoritasnya saya.

Penulis bilang ke karyawan toko buku tersebut, pengikut islam golongan terutama golongan NU mereka semua taqlid buta dan fanatik buta dan salafi pun sebagian fanatik buta. Penulis belum selesai jelasin tentang yang di maksut salafi sebagian fanatik buta, beliau tidak terima nyampe teriak-teriak menuding penulis beliau berkata: berarti antum tidak tau arti salafi, penulis jawab tahu mas, dia teriak lagi la itu buktinya bilang salafi fanatik buta, beliau seperti kaya mengajak berantem gitu hehe. Lagian penulis sendirian kok di sebut antum. Seharusnya anta. Dari sini saja beliau sudah condong taqlid kepada ustadz yang ceramah sering mengucapkan kata antum, padahal dalam bahasa Arab yang benar kata antum itu untuk menunjukkan kata kerja untuk nunjuk kesemua orang, jadi wajar seorang ustadz ceramah menyebut jamaah nya dengan sebutan antum semua nya.

Singkat cerita akhirnya penulis bentak maap mas saya tidak mau denger saya sudah tau, dalam hati penulis berkata “yang jelas kelemahan penulis tidak suka dengan orang sombong sok pinter dan apalagi membodohin diri, la mayoritas yang penulis baca itu¬† rata-rata buku-buku karya ustadz yazid kok penulis di vonis tidak tau arti salafi. Apakah ini namanya bukan membodohin diri?

Beliau terus ngoceh tapi tidak penulis dengarkan, Namun akhirnya penulis jawab lagi maap mas saya sudah tau, sudah tau tentang yang mas maksut, namun beliau lagi-lagi mengatakan itu buktinya antum mengatakan salafi fanatik buta, lagi-beliau menjelaskan beberapa bait kata, namun penjelasannya pun gak ilmiah dan di sertai emosi dan marah-marah.

Akhirnya penulis suruh diam, penulis bilang maap saya bukan mau debat kusir, saya mau beli buku, beliau tetep ngoceh tidak jelas penulis diamkan saja, lama kelamaan akhirnya jadi gak konsen milih-milih buku yang ingin di beli, akhirnya penulis cuma beli sandal bakiya’ dan satu buku yang berjudul syarah kitab tauhid, buku hasil karya modipikasi dan terjemahan ustad yazid, setelah pembayaran buku tersebut selesai penulis pamit, dan penulis tunjukin web penulis, penulis bilang ke beliau, tentang yang mas tanyakan sudah sedikit saya jelaskan di wesite saya cuma saya lupa judulnya cari aja sendiri, lalu beliau buka di carinya, langsung penulis pamit, penulis bilang saya mau ke masjid dulu sholat duha tapi penulis salah ucap penulis bilangnya sholat tahajud, hehe, itu sangking sudah tidk konsennya.

Setelah dari masjid penulis lanjutkan beli bukunya ke toko distributor pusatnya yang sebrang polres cilengsi, di sana penulis aman dan damai bisa milah milih-milih buku yang sekiranya judulnya bagus, dan akhirnya tidak terasa belanja buku hampir habis 700 ribuan lebih, ini sudah termasuk harga diskon 40% perbuku, jika di bandingkan dengan beli buku di toko lain seperti di gramedia, toko agung dan sejenisnya mungkin angka 700rb bisa menjadi 900 ribuan.

Sebenernya penulis itu mudah memahami kondisi orang, mana orang yang bisa di ajak diskusi dari hati ke hati dengan mana yang tidak bisa di ajak diskusi dari hati ke hati, penulis liat dari bahasa dan sifat penjaga toko tersebut orangnya memang maunya di dengar saja, dan tidak mau mendengarkan pendapat orang dulu, beliau condong menutup diri dari opini orang, buktinya penulis belum selesai jelasin yang penulis maksut yaitu sebagian salafi fanatik buta beliau langsung memotong dan ngotot menangkis kata-kata penulis atas ketidak terimaannya terhadap ucapan penulis tersebut.

Comment

tags:

Populer post