19 Zulhijjah 1440 H

530 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Oleh: Dwiwap.com

Ibadah haji adalah salah satu rukun islam yang kelima. Haji adalah ibadah yang langsung di laksanakan di mekkah, setidaknya sekali dalam seumur hidup, tentunya bagi mereka yang mampu. Bagi yang tidak mampu tidak di paksakan, namun sebenarnya banyak yang mampu untuk menunaikan ibadah haji namun pura-pura tidak mampu, karena mayoritas mengutamakan materi seperti kendaraan mewah, rumah mewah dan sejenisnya yang serba mewah.

Ibadah haji adalah ibadah yang teramat mulia. Sungguh amat sulit untuk saat ini berangkat langsung dari tanah air ke tanah suci karena antrian yang saking panjangnya. Namun demikian antusias orang di negeri kita di mana mereka amat merindukan ka’bah di tanah suci. Sampai-sampai berbagai cara ditempuh dan dijalani untuk bisa ke sana meskipun dengan cara yang tidak Allah ridhoi. Selain itu tidak sedikit yang niatnya untuk selain Allah, hanya ingin mencari gelar. Label pak/buk Haji-lah yang ingin disandang bukanlah ridho dan pahala dari Allah yang dicari. Sampai-sampai ada yang mengharuskan di depan namanya harus dilabeli gelar ”H”.

Bahkan tidak sedikit penulis jumpai diantara orang-orang yang sudah berhaji di kampung-kampung, dan di kota-kota besar, jika tidak di panggil pak haji atau ibu haji merasa kurang di hargai atau di hormati. Bahkan penulis pun pernah di tegur dan di haruskan untuk memanggil mereka dengan sebutan pak haji atau ibu haji.

Begitulah yang terjadi dalam masyarakat negri yang kita cinta ini, namun yang bikin ironis banyak orang-orang yang sudah berhaji namun kelakuannya tidak jelas, tidak jauh bedanya dengan islam ktp. Seharusnya seseorang yang sudah berhaji itu harus lebih faham agama ketimbang dengan yang belum naik haji dan seharusnya tidak sombong, tidak pelit, ringan membantu dan ramah. Namun justru yang terjadi dalam kebanyakan masyarakat awam justru sebaliknya. Mohon maaf buat yang bertitel ”h” yang tidak merasa sombong, tidak pelit dan sejenisnya. Tidak perlu nggeunjel.😊🙏

Apa penyebab itu semua, setelah penulis tinjau mengapa banyak orang sudah berhaji namun tidak seperti selayaknya orang yang pernah naik haji. Karena mereka awalnya tidak mau mencari tau bagaimana tata cara berhaji yang benar, mereka hanya mengandalkan taqlid buta, dan mayoritas mereka condong menutup diri dan ngutamakan tradisi-tradisi.

Seperti selamatan debelum berangkat haji sebagian mereka menobatkan tradisi dan budaya orang-orang terdahulu yang sesat menjadi bagian ritual agama yang dianggap shahih. Mereka rela berkorban dengan penuh kesetiaan dan ketulusan untuk melestarikannya, apalagi didukung para tokoh dengan berbagai macam argumen yang ”menguatkan” (tapi membingungkan) kalangan awam sehingga mereka menganggap sakral dan mengkultuskan para pencetus dan tokoh pembelaannya.

Diantara bentuk tradisi yang dilestarikan dan diyakini menjadi bagian dari syariat Islam yang harus ditunaikan biasanya yaitu selamatan atau walimatul safar sebelum berangkat haji. Calon jamaah haji ketika akan berangkat dilepas dengan alunan suara adzan dan ketika apabila datang dari makkah, mereka tidak boleh masuk ke rumah sebelum dimintai berkah doanya. Air zam zam yang dibawa dari makkah dimasukkan ke dalam sumur sehingga sumur tersebut diyakini keberkahannya. Selama jamaah haji sedang menunaikan haji 40 hari, maka para tetangga bergantian datang ke rumahnya baik harian atau mingguan untuk yasinan, tahlilan, ratiban, rawitan dan manaqiban. Bahkan ada pesantren yang menyiapkan tim ritual tersebut yang dipandu oleh kiyainya sehingga banyak calon jamaah haji telah membokingnya jauh-jauh hari sebelum hari keberangkatannya.

Bahkan, ada yang lebih aneh lagi, sebelum berangkat haji diantara mereka berpamitan, meminta-minta kepada para wali dengan cara berziarah ke makam-makam wali songo.

Kesalahan praktek ibadah bukan semata kesalahan individu masyarakat awam, namun para tokoh agama yang taqlid butalah yang menggulirkan ajaran penuh dengan kebodohan dan kesesatan yang disuntikan ke akal orang awam agar mereka membenci dan memusuhi ajaran murni dan suci.

Sebagaimana firman Allah Subhana Wata’ala.
Wa iża qila lahum ta’alau ila ma anzalallahu wa ilar-rasụli qalụ ḥasbuna ma wajadna ‘alaihi aba`ana, a walau kana aba`uhum la ya’lamụna syai`aw wa la yahtadụn.

Artinya: Apabila dikatakan kepada mereka: ”marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah Subhana Wata’ala dan mengikuti Rasulullah”. Mereka menjawab, ”cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk ? (Al-Maidah/5:104).

Brsambung..

Comment

tags:

Populer post