13 Zulqaidah 1440 H

Benarkah syi’ah sesat total.

Kategori Kritikan
Di lihat 781 kali

404 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Oleh: DWIWAP.COM

Terkadang penulis membaca postingan di facebook, di komentar-komentar, dan mendengar ceramah-ceramah ustadz baik dari salafi maupun dari ustadz pengikut islam golongan. Yang membuat ironis dan terkadang membuat penulis bersemangat ingin meluruskan.

Banyak penulis jumpai di kalangan umat islam terutama di ahli bid’ahnya maupun yang mayoritas sebut salafi atau yang menyebut manhaj salaf, penulis dapati mayoritas 99% mereka fanatik buta, mengklaim  atau memvonis syi’ah berikut firqohnya itu sesat semua tanpa kecuali.

Namun ironisnya mereka mayoritas terutama pengikut islam golongan yang saat ini menjadi terbanyak tidak menyadari bahwa progam-progam syi’ah sudah tertanam dan tersisip di setiap faham golongan atau ormas islam mereka, tanpa di sadari mereka telah menyesatkan dirinya sendiri, terutama buat golongan yang saat ini paling di ikuti mayoritas, mereka maling teriak maling/sesat teriak sesat.

Kenapa mereka bisa begitu? Jawabannya hanya satu yaitu karena mereka condong fanatik buta dan taqlid buta. Namun kalau yang salafi tidak nyampe taqlid buta, cuma fanatik buta aja.

Siapasih yang tidak sepakat dengan golongan terlama yaitu sexte syi’ah itu sesat? penulis rasa tidak ada kecuali syi’ahnya sendiri. Syi’ah sesat menurut ulama-ulama salaf atau mayoritas umat islam, penulis setuju, penulis tidak mengatakan tidak setuju. Dan siapa yang mengatakan mereka tidak sesat? jawabannya sama penulis rasa tidak ada kecuali pengikut syi’ahnya sendiri.

Namun apakah mereka itu sesat semua tanpa kecuali? penulis rasa Tidak!, hanya orang fanatik buta yang mengatakan atau memvonis mereka sesat total tanpa kecuali. Kenapa tidak mengklaim/memvonis golongan yang terbaru terutama  yang saat ini banyak pengikutnya juga sesat semua tanpa kecuali? Bukankah paham mereka dengan syi’ah banyak yang samanya ketimbang dengan yang tidaknya?

Perlu di garis bawahi dan anda ketahui semua, tidak semua pengikut syi’ah itu sesat semua tanpa kecuali, diantara mereka ada yang mengingkari kesesatan mereka, baik terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi dalam hati.

Anda kira yang hidup di mayoritas yang penduduknya syi’ah lalu semua ikut paham syi’ah? Anda salah! penulis rasa tidak semua mereka seperti anggapan anda.

Penulis beri contoh: penulis sendiri hidup di tengah-tengah mayoritas dari Islam golongan yang saat ini di sebut mayoritas, kakek, nenek, Ibu, bapak, saudara dan sanak kerabat dan tetangga dan semuanya mayoritas adalah ahli bidah. Baik itu yang di lampung, banten, jawa timur, jawa tengah, kalimantan timur, kalimantan barat semua mayoritas ahli bid’ah dari golongan yang terbaru yang di sebut mayoritas tersebut, lantas apakah penulis mengikuti paham mereka semua? jawabannya tidak.

Atau penulis hidup di tengah-tengah ahli bidah, seluruh saudara kerabat, ortu dan semuanya ahli bidah, dan ahli bid’ah ini yang terkenal di indonesia golongan yang saat ini di sebut mayoritas, maka secara tidak langsung oarng di luar negri atau luar daerah akan menyebut penulis golongan tersebut itu juga. Namun apakah penulis ikut faham tersebut? jawabannya tidak.

Contoh lagi misal anda hidup di tengah-tengah yang mayoritas syi’ah lalu anda sendiri tidak ikut faham syi’ah, namun secara tidak langsung anda akan di sebut syi’ah oleh orang di luar negara anda. Namun apakah anda mau di sebut sy’iah? jawabannya penulis rasa tidak.

Penulis beri contoh lagi. Seumpama anda seorang muslim lalu hidup dan berkembang biak di negara kafir atau negara yang mayoritas penduduknya kafir atau non muslim= sudah pasti anda akan ikut tersebut kafir. Orang muslim di indonesia pasti akan menyebut negara yang anda tempatin negara kafir, lantas apakah anda ikut kafir juga? jawabannya penulis rasa tidak.

Begitupun dengan syi’ah, anda hidup di tengah-tengah orang syi’ah atau sudah terlanjur orang mengira anda syi’ah atau terlanjur terkurung di lingkungan syiah belum tentu anda mengikuti paham syi’ah. tidak semuanya mereka seperti yang kita sangkakan. (Maap bukan penulis membela syi’ah jangan salah paham). Untuk mudah bisa memahami apa yang penulis maksut anda harus netral cukup islam aja, sesuai dalam alqur’an dan hadits, terutama buang itu fanatik ulama ini dan itu, mazab ini dan itu, manhaj ini dan itu, golongan ini dan dan sejenisnya. Semoga paham.

Analogi satu karung padi, mungkinkah sekarung padi tersebut berisi padi semua? Jawabanya tidak. Di dalam satu karung tersebut tidak menutup kemungkinan ada isi lain selain padi atau ada berisikan kerikil yang masuk kedalamnya.

Jadi kesimpulannya tidak semua syi’ah itu sesat, yang mengklaim syi’ah sesat total tanpa kecuali biasanya pengikut islam golongan yang fanatik buta dan salafi atau yang mengklaim bermanhaj salaf yang fanatik buta juga. Lebih singkatnya yang mengklaim syiah sesat total di sebut mayoritas umat islam yang condong fanatik buta dan taqlid buta.

Sungguh ironis, mayoritas setiap muslim yang faham agama atau mungkin agak faham agama, tidak sedikit penulis jumpai bahkan mungkin sangat banyak penulis jumpai di mereka, baik itu yang bermanhaj salaf atau yang biasa mereka sebut salafi dan juga dari pengikut islam golongan terutama yang saat ini menjadi mayoritas pasti mereka bilang ke saya hati-hati dengan syi’ah.

Lantas penulis tanya emang ada apa dengan syi’ah. Mereka jawab syi’ah mengkafirkan sahabat. Penulis tanya lagi apakah semua yang anda cap syi’ah mengkafirkan sahabat semua? Mereka tidak bisa jawab, sebagian mjenjawab dengan muter-muter.

Makanya jangan mengembangkan katanya-katanya. Memang itu benar namun tidak semua mereka mengkafirkan sahabat. Hanya Allah yang mengetahuinya.

Apa yang membuat mereka begitu benci dengan syi’ah begitu berlebihan itu semua akibat fanatik terhadap golongan, fanatik terhadap mazab, fanatik manhaj atau fanatik ulama ini dan itu dan sejenisnya dan di tambah taqlid buta terhadap hasil asumsi dan katanya-katanya, alias ikut-ikutan. Jadi umat islam yang selagi fanatik, berarti masih condong ke golongan dan kelompok.

Begitupun dengan salafi, walau salafi itu bukan golongan, namun selagi fanatik mengklaim ikuti ulama ini dan itu penulis atau anda pastikan mereka tidak jauh bedanya dengan islam golongan yang terbaru atau yang biasa mereka sebut ormas islam.

Menjadi muslim itu gampang dan tidak sulit tapi jangan di pergampang dan di persulit. kalau orang terdahulu pemahamannya sesuai dengan perintah Allah dan Sunnah Rasullnya ikuti, jika tidak sesuai tidak usah di ikuti. Gampangkan?  Tidak harus mengatakan ana bermazab Syafii, ana bermazab maliki, ana bermazab hanafi, ana bernazab hambali dan seterusnya. Yang salafi mengklaim ana bermanhaj salaf.

Jika seperti itu yang terjadi hasilnya akan membuahkan hasil berdakwah bukan berjuanng untuk islam yang cuma satu, tapi berjuang untuk kelompok dan golongan, liat yang terjadi saat ini. Akibat fanatik buta, akibat bermazab ini dan itu. Membuat mayoritas berbeda faham dan jika beda faham mereka kembalikan ke apa kata mazab mereka, kata ustadz mereka, kata kiay mereka, kata guru mereka, kata kebanyakan mereka dan kata mayoritas mereka.

Subhanallah seandai mereka kembalikan ke apa kata Allah dan Rosulnya niscaya akan tegak dien di muka bumi ini dan akan musnah kebatilan, kebidahan dan kemusrikan di muka bumi ini. Wallahu alam.

Nambah:

Tidak sedikit penulis jumpai orang-orang yang bertitle atau berpendidikan tinggi, bahkan pendidikannya setingkat S1 sampai S2 juga, banyak yang gagal faham mentelaah/nalar tidak nyampe/memahami tulisan diatas.

Baik itu dari kalangan yang mereka sebut manhaj salaf atau salafi ataupun pengikut islam golongan/ormas islam, rata-rata gagal faham dan tidak sedikit malah ngasih pertanyaan yang bodohin diri dan nunjukin pembodohan.😊

Pertanyaan pembodohan tersebut biasa nya seperti: Sebutkan tidak sesatnya syi’ah?, ada juga yang menuduh penulis syi’ah dan masih banyak lagi yang penulis maksud pembodohan, padahal dalam artikel itu sudah di jelaskan secara rinci.

Jika yang berpendidikan tinggi setingkat S1 hingga S2 saja banyak yang gagal faham alias nalar tidak nyampe. Lantas bagaimana dengan yang berpendidikan hanya setingkat D3 hingga D1, Sma hingga Smp, Sd hingga Tk, sudah gitu awam pula, tidak hobi menggali ilmu, pemahaman-pemahamannya dan pengetahuan nya hanya bermodalkan bertaqlid buta dan fanatik buta alias dari katanya-katanya.

Pertanyaannya, apakah mereka tidak akan makin parah kegagal fahamannya? Jawabnya benar mereka akan makin parah gagal fahamnya. Dari itu penulis sarankan buat orang awam, lebih baik jangan menyanggah tulisan itu maupun tulisan lainnya. Lebih baik abaikan atau diam atau nyimak saja. Kecuali anda memiliki kemampuan untuk menyanggah nya. Maap bukan sombong.

Hanya beberapa orang yang mampu mentelaah/nalarnya nyampe mencernanya, itupun yang bertitle S2 yang benar-benar cerdas, yang bertitle tinggi namun awam rata-rata juga gagal faham. Apa yang penulis ucapkan ini kenyataan bukan bualan belaka. Mungkin diantara pembaca dalam hati banyak yang tidak terima tapi di pendam, mungkin dalam hati pembaca sebagian menganggap penulis sok pinter, sok paling bener, menganggap sombong dan berbagai pikiran negatif lainnya, itu terserah anda, itu hak anda, namun jika anda cerdas dikit tidak perlu grunjel dalam hati, di bawah postingan ada kolom komentar, silahkan lepaskan uneg-uneg anda.

Adakah di antara anda yang membaca artikel tersebut yang nalar nyambung silahkan berikan kritikan anda. Penulis dengan senang hati akan menerima nya, selama kritikan/sanggahan anda tidak membodohin diri/nunjukin pembodohan. Dan kalau bisa yang ilmiah dikit.

Maap awas gagal faham mentelaah kata ”pembodohan dan bodohin diri”. Nanti pembaca cap penulis bodoh-bodohin. Kata pembodohan/nunjukin pembodohan itu bukan untuk menunjukkan/menuduh seseorang itu bodoh.😊

Comment

tags:

Populer post