19 Zulhijjah 1440 H

790 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Oleh: Dwiwap.com

Berikut ini argumentasi hamba tradisi yang paling banyak di jadikan hujah oleh mayoritas mereka untuk mematahkan para pengkritik bid’ah, tulisan tersebut penulis kutip dari akun salah seorang di fb, mari kita baca dan telaah dengan otak/nalar/akal tercerdas masing-masing. Tulisan tersebut masih sesuai aslinya tidak ada yang di rubah kata-katanya cuma di rubah warnanya saja.

MEMBUNGKAM KELOMPOK SEKTE WAHABI
Oleh : Ust.Asy’ari Masduqi

Apabila Wahhabi berkata:
“Peringatan mawlid bid’ah, do’a bersama bid’ah, dzikir berjama’ah setelah sholat bid’ah, dzikir dengan suara keras setelah sholat bid’ah, tahlilan bid’ah, pujian setelah adzan bid’ah dan seterusnya, karena tidak pernah dilakukan oleh Nabi”

Maka katakanlah:
Jika setiap yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi itu bid’ah, bagaimana dengan pengumpulan al Qur’an yang mulai dilakukan pada masa Sayyidina Abu Bakar dan penulisan al Qur’an dalam mushhaf yang pertama dilakukan pada masa Sayyidina Utsman?!, termasuk bid’ah yang baik atau bid’ah yang buruk?!

Apabila Wahhabi berkata:
Kalau itu bukan bid’ah, karena pengumpulan al Qur’an dan penulisan al Qur’an dalam mushhaf itu dilakukan oleh seorang sahabat.

Maka katakanlah:
Bukankah tadi kalian katakan, bahwa setiap yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi itu bid’ah?!, berarti sekarang definisi bid’ah kalian ralat menjadi “Setiap sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabat?!.

✔️Apabila yang dilakukan oleh Abu Bakr bukan bid’ah kenapa ketika beliau mendapat usulan pengumpulan al Qur’an dari Sayyidina Umar, beliau awalnya berkata:
كيف أفعل شيئاً لم يفعله رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ فقال عمر: هو والله خير
“Bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah?, kemudian Sayyidina Umar mengatakan: “Demi Allah itu adalah baik”.

👆Bukankah itu pengakuan dari Abu Bakr bahwa itu bid’ah, dan meskipun bid’ah kemudian Umar menyatakan bahwa itu bid’ah yang baik?!.

✔️Apabila kalian tidak mau menyebut bid’ah terhadap sesuatu yang dibuat oleh para sahabat, sekarang kalian saya tanya dengan dua pertanyaan:
1⃣Apakah adzan kedua dalam sholat Jum’at yang dibuat oleh Sayyidina Utsman bukan bid’ah?!, apakah sholat Tarawih dengan 20 rekaat secara berjama’ah yang dibuat pertama kali oleh Sayyidina Umar bukan bid’ah?!.

✔️Apabila kalian mengatakan bid’ah maka kalian telah meralat lagi definisi bid’ah yang baru saja kalian ralat, jika kalian mengatakan itu bukan bid’ah maka kalian telah menyalahi para ulama kalian sendiri semisal Nashiruddin al Albani yang membid’ah sesatkan kedua amalan tersebut.
Kalian juga menyalahi perkataan Sayyidina Umar yang menyebut sholat Tarawih 20 rekaat dengan berjamaah adalah bid’ah, beliau berkata:
نعمت البدعة هذه
“Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini”.

2⃣Pemberian titik dan harakat dalam mushhaf itu bid’ah yang baik atau buruk?. Karena pemberian titik dan harakat tidak dilakukan oleh para sahabat, tetapi oleh seorang tabi’in yang bernama Yahya bin Ya’mur.

👆Di sini tidak mungkin lagi bagi Wahhabi untuk merubah definisi bid’ah lagi. Pilihannya mengakui adanya bid’ah yang baik (hasanah), atau menganggap pemberian titik dan harakat dalam mushhaf itu bid’ah yang buruk atau sesat.

✔️Apabila mereka menganggapnya sebagai bid’ah yang sesat, maka katakanlah kepada mereka, silahkan kalian baca al Qur’an yang tidak bertitik dan tidak berharakat apabila kalian bisa?! Dan jangan kalian cetak dan sebarkan mushhaf yang bertitik dan berharakat lagi!!. Apabila kalian tetap melakukannya berarti kalian pelaku dan penyebar bid’ah.

Apabila Wahhabi berkata:
“Itu bukan bid’ah dalam ibadah, apabila dalam masalah ibadah maka semua bid’ah itu sesat”

Maka katakanlah:
Apakah orang yang membaca al Qur’an yang ada titik dan harakatnya tidak sedang beribadah kepada Allah? Apakah dia tidak akan mendapatkan pahala karena membaca al Qur’an yang ada titik dan harakatnya?!
Jangan bicara semaunya sendiri..
لا حول ولا قوة الا بالله

========>>>><<<<========

Kritikan pertama penulis:
Ustadz di atas berdalil menggunakan perkataan sahabat nabi salah satunya perkataan umar bin khatthab R.a yaitu: yang artinya: Sebaik-baik bid’ah adalah ini. (Yaitu terkait sholat terawih berjamaah).

Mereka mayoritas memahami perkataan sahabat Umar tersebut gagal faham. Mereka kira perkataan sahabat tersebut untuk mendukung perbuatan bid’ah mereka sekarang, padahal tidak sama sekali perkataan sahabat umar R.a tersebut untuk mendukung adanya bid’ah dalam agama. Terkait sholat terawih yang di hidupkan sahabat Umar Ra, sebelumnya pernah di lakukan oleh Rasulullah Saw. Dan apa yang di lakukan oleh umar tersebut sudah dapat ijin dari Rasulullah dan sudah di restui oleh Allah. Buktinya dalam firman Allah yang artinya: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah kucukupkan kepadamu ni’matku dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS. Al maidah : 3).

Pada saat itu agama Islam sudah di cap sempurna tidak perlu di tambahi/di modifikasi dengan syariat baru ataupun dikurangi. Jika sekarang mayoritas muslim nambah-nambahi atau berbuat bid’ah ini sangat menyelisihi firman Allah tersebut. Lantas jika agama sudah di cap sempurna dan di tutup kenabian, tidak ada nabi lagi setelah nabi Muhammad Saw. Lantas kalian berbuat bid’ah di jaman sekarang ini dapat ijin dari siapa? Dapet ijin dari Allah dan rasul-nya? Mustahil. Yang jelas dapat ijin dari setan. Karena setan suka dengan kebid’ahan. Karena itu hal penyesatan yang tiada ketara.

Terkait tentang Al-Qur’an diberi harakat, itu demi kemaslahatan, untuk mempermudahkan, bahkan jaman dahulu belum ada tanda titiknya juga, jadi huruf ba,ta,tsa,nun itu sama saja,
la wong sudah diberi harakat saja masih banyak yang tidak bisa baca Al-Qur’an, apalagi kalau tidak diberi harakat,
Sama saja dengan bahasa arab, jaman dahulu tidak ada pelajaran nahwu, sharaf, namun untuk memudahkan agar kaum muslimin bisa mempelajari Al-Qur’an dan hadits, maka dibuatlah kaidah-kaidah bahasa arab, nahwu,sharaf. Begitu tadz, belajar lagi tadz, jangan ngambil gelar ustadz dahulu sebelum benar-benar memahami sesuatu perkara dengan otak/akal tercedas anda, agar menjadi ustadz yang pinter, bukan pinter mlintir kesesatan menjadi kebenaran. Jangan betah tadz di perbudak bid’ah.

Kritikan kedua penulis: Dalam tulisan yang penulis kutip diatas ustadz tersebut mengatakan dirinya ustadz. Jika sudah berani ngaku ustadz sudah jelas pasti memiliki pendidikan tinggi, ilmu yang tinggi, wawasan dan pengetahuan yang tinggi pula.

Namun sungguh ironis setelah penulis tinjau pernyataan/argumentasi beliau tersebut tidak mendukung kalau itu menunjukkan argumen seseorang ustadz yang memiliki wawasan dan pengetahuan yang tinggi, melainkan perkataan jahil yang nunjukin pembodohan yang begitu sangat, masih mending jika jahilnya tersebut untuk mengajak mermunikan  syari’at islam.

Dan argumen tersebut membuat penulis sungguh ironis dan bikin gemes atas pembodohan nya, liat di dalam judulnya tulisan yang penulis kutip di atas, beliau mengatakan bahwa wahabi itu sekte dan inilah pemahaman yang di gunakan oleh mayoritas ahli bid’ah terutama dari golongan Nu yang taqlid buta dan fanatik buta. Padahal tidak ada yang namanya sexte wahabi. Sexte artinya golongan terlama. Kalau di jaman sekarang di sebut golongan terbaru namun mayoritas mereka menyebutnya dengan sebutan ormas islam/organisasi, wadah, lembaga dan sejenisnya. Namun baik itu golongan terlama/sexte ataupun golongan terbaru/ormas di dalam Quran di sebut golongan. Meskipun seluruh umat Islam baik itu salafi atau golongan yang mendekati sunnah maupun golongan yang membela mati-matian bid’ah mengatakan itu hanya wadah/lembaga. Namun mau alasan membuat sebutan nama apapun dalam Al-Qur’an tetap saja di sebut golongan.

Dan setelah penulis tinjau tidak ada sejarah yang mengatakan adanya sexte wahabi, yang ada seperti sexte syah, khawarij dan sejenisnya. Kalau toh pun ada hanya perkataan orang-orang dengki terdahulu yang benci dengan dakwah tauhid dan sunnah yang tujuannya memurnikan syari’at Islam untuk menupas kemusrikan, kebid’ahan, tahayul, kurafat dan sejenisnya.

Sebutan wahabi bukan untuk penyebutan sexte/kelompok, namun kata yang dimunculkan oleh para penentang dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah. Padahal Syaikh rahimahullah berdakwah untuk memurnikan tauhid dari berbagai macam kemusyirikan. Beliau ingin menghapus berbagai macam cara beragama di luar yang dituntunkan oleh Nabi kita Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa salam. Maksud dari pemunculan nama ini sebenarnya adalah untuk menjauhkan dan menghalangi manusia dari dakwah beliau.

Namun usaha semacam ini tidaklah membahayakan dakwah beliau. Bahkan dakwah beliau semakin tersebar di berbagai penjuru dunia dan semakin dicintai. Di antara mereka yang diberi taufik oleh Allah untuk mengenal dakwah beliau, mereka melakukan penelitian lebih lanjut tentang hakikat dakwah beliau, mereka pun membelanya, karena beliau selalu bersandar pada dalil Al Kitab dan As Sunnah yang shohih pada setiap apa yang beliau sampaikan. Sehingga mereka semakin berpegang teguh dengan dakwahnya, mengikutinya dan mengajak manusia kepada dakwah beliau. Wa lillahil hamd (Segala pujian hanyalah milik Allah).

Lanjut seseorang yang sudah mengklaim dirinya ustadz adalah orang-orang yang benar-benar cerdas, pintar dan jenius. Daya ingatnya maupun hapalannya tajam, dalam mentelaah/memahami sesuatu perkara langsung tertangkap dalam benak mereka dengan ilmiah. Namun yang terjadi dalam mayoritas ustadz ahli bid’ah dalam memahami sebagian hal mereka justru sebaliknya. Apa penyebab itu semua? Setelah penulis tinjau penyebabnya adalah akibat dari fanatik buta dan taqlid buta, akhirnya mudah menerima berita-berita plintiran dusta dari katanya-katanya, jika demikian berarti benar apa yang sering penulis katakan bahwa pendidikan tinggi tidak bisa di jadikan tolok ukur atau menjamin seseorang tersebut memiliki pengetahuan dan wawasan yang tinggi pula. Meskipun mayoritas pendidikan tinggi bisa di jadikan tolok ukur, namun bagi penulis tidak biss.

Bersambung…

Comment

tags:

Populer post