12 Rabiul Awwal 1440 H

Ustad-ustad tan.

Kategori Kritikan
Di lihat 252 kali

Hits: 52

Ustad-ustada tan.
Oleh: DWIWAP.COM

Banyak orang awam di kampung-kampung atau di plosok desa menjadi ustad atau oleh warga di panggil ustad atau di juluki ustad hanya karena bisa memimpin tahlilan dan bisa menjadi khotib jum’at itupun yang di sampaikan ala kadarnya, sebelumnya tidak pernah belajar baik dari pondok, dari kiay tertentu, tidak mengkaji, tidak belajar dari berbagai buku maupun berbagai ceramah, mungkin belajar sedikit itupun hanya beberapa tahun hanya bermodal berani lalu menjadi khotib.

Padahal sebenarnya belum layak di klaim sebagai ustad, jika pengetahuannya baru bermodal katanya-katanya, dan hanya sebatas masalah ritual amalan bid’ah, tapi mayoritas merasa dirinya cerdas, pinter dan mengerti tentang agama.

Ternyata setelah penulis tinjau mengertinya hanya sebatas amalan ritual yang tidak ada perintahnya dari Allah maupun Rosullnya alias amalan bid’ah atau amalan kesesatan yang tiada ketara walaupun kesesatan ini tiada ketara namun efeknya sangat buruk yaitu mematikan sunah bahkan yang wajib. Karena selalu dan sepanjang masa oleh pelaku dan penggemarnya di anggap baik atau hasanah. Yang bid’ah di buat amalan rutin seolah-olah itu wajib, namun ironisnya yang wajib dan sunah banyak yang terabaikan dan terlupakan.

Berikut ini cerita yang sebenernya, singkat cerita hari raya id sekitar 2/3 harian penulis mudik kerumah orang tua, ketika selisih beberapa jam dari datangnya penulis, datang juga paman, adik dari ibuk penulis dari desa sebelah dan beberapa orang lainnya. Singkat cerita tiba-tiba terjadi diskusi tentang yang berkaitan tentang agama seperti memperingati kematian, mengenai berminta maap atau maap-maapan ketika hari raya id dan sejenisnya.

Dalam diskusi tersebut penulis menggunakan faham murni islam yang kaffah tanpa taqlid buta dan fanatik buta dan tanpa menggunakan islam berlebel penulis katakan, penulis cukup islam/muslim berdasarkan Quran dan hadist bukan salafi, kalau di kampung-kampung mayoritas orang awam taunya untuk menilai orang yang anti bidah atau untuk penyebutan yang tidak sepaham dengan sebutan muhamadiyah. Jadi mereka menganggap penulis muhamadiyah. hehe

Dan sedangkan paman menggunakan faham pendapat manusia atau katanya-katanya dan tradisi-tradisi. Beliu bilang kata guru saya dulu begini, kata kiay saya dulu begini dan kata kebanyakan orang dulu begini.

Penulis sanggah singkat cerita karena penulis tidak hafal ayatnya, maka penulis cuma menjelaskan, beragama islam itu mudah dan tidak sulit namun jangan di permudah dan di persulit. Ada perintahnya dari Allah dan Rosulnya kerjain kalau tidak ada jangan di kerjain, kita beragama bukan ngandalin atau ngutamain pendapat guru, kiay, ustad dan sejenisnya, kita memang di anjurkan mengikuti dalam qur’an tapi bukan untuk berfanatik buta dan bertaqlid buta terhadap ulama ini dan itu, namun ikuti yang di maksut di ayat qur’an tersebut ikuti selagi tidak menyelisi apa yang di tentukan Allah dan rosulnya karena islam ketika itu sudah di cap sempurna. tidak boleh di tambah dan di kurangi lagi.

Lalu paman berhujah mengenai perkataan sahabat nabi tentang terawih yang di hidupkannya oleh sahabat nabi yaitu sebaik-baiknya bid’ah adalah ini dan berhujah Imam syafii membagi bid’ah menjadi dua. Penulis katakan dengan singkat, sholat terawih itu bukan bid’ah karena pernah di lakukan nabi, kalau toh sahabat nabi melakukan bid’ah itu, setelahnya dapat ijin/restu dari nabi dan Allah. Dalilnya: Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmatku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu. (Almaidah:3).

Sedangkan imam syafii membagi bid’ah menjadi dua (sudah pernah bahas), Singkat cerita penulis katakan sekalipun pendapat Imam syafii itu benar, namun beliau itu manusia biasa bukan nabi atau rosul bukan sang penerima wahyu. Beliau tidak bisa di jadikan tolok ukur, tolok ukur kita Allah dan Rosul, kita beragama bukan berpatokan apa kata manusia biasa, tapi berpatokan Apa kata Allah dan Rosulnya. Imam syafii sendiri mengatakan: Apabila kalian mendapati pendapatku menyalahi perkataan Rasulullah SAW, maka lemparkanlah pendapatku ketepi dinding. Dan masih banyak lagi pesan-pesan beliau.

Dalam Alqur’an di jelaskan tidak boleh mengikuti mayoritas manusia yang jumlahnya banyak nanti tersesat, dan penulis bilang kepada beliau itu kata Qur’an, bukan kata penulis, namun penulis bilang penulis tidak hafal ayatnya. (Inilah kelemahan penulis karena tidak mudah menghafal dalil-dalil Alqur’an maupun Hadits karena pelupa), mungkin andai penulis bisa menghafal Qur’an ples terjemahannya berikut berbagai Hadits dan tidak mudah lupa mungkin penulis sudah jadi ustad. Hehe tidak semudah itu, untuk menjadi seorang ustad yang cerdas tidak semudah yang kita bayangkan, kecuali kehendak dari Allah. Namun walaupun penulis tidak bisa menjadi ustad namun seenggak-enggak nya kita sampaikan yang kita tahu tentang kebenaran yang hak bukan yang kebenaran semu. Sekalipun mungkin kita orang munafik jangan takut untuk menyampekan kebenaran, kebaikan sekecil apapun akan dapat ganjarannya dari Allah, namun semoga kita terhindar dari kemunafikan dan dusta. Amiin.

Sebenernya penulis malu bicara tentang agama, karena penulis sendiri masih merasa kotor hatinya belum bisa beriman dan bertakwa dengan sesungguhnya, penulis belum bisa mengendalikan atau nahan hawa nafsu, seperti egois, amarah emosi dan sejenisnya. Namun penulis selalu berusaha melawan semua itu namun belum pernah banyak berhasilnya ketimbang dengan berhasilnya, dan penulis memang banyak belajar tentang agama islam yang kaffah, namun penulis jujur belum bisa mengamalkannya dan mengaplikasikan dengan penuh, ibaratnya hanya tau buat diri sendiri dulu. Wah jadi buka aib sendiri nih… Lupakan. Kita lanjut cerita ini.

Singkat cerita beliau paman mengatakan, beliau imam masjid skalian khotib jumat di kampungnya. Tidak ada yang lain selain beliau yang berani naik mimbar jadi khotib kecuali dirinya. Ini yang mungkin yang membuat beliau termotivasi.

Singkat cerita ternyata apa yang beliau ceritakan/sampaikan ke penulis yaitu tentang apa yang di ceramahkan ketika khotib pada hari jumat setelah penulis tinjau dari sekilas ceritanya ternyata tentang menghidupkan bid’ah/yang berbau kebidahan. Bukan tentang menghidupkan tauhid dan menghidupkan sunnah. Sedangkan yang membuat penulis ironis. Beliau tidak menyadari pembodohan yang sedang dilakukannya, namun sudah saya kritik panjang lebar. Tidak perlu saya paparkan di blog ini lagian penulis nulisnya ribet nanti di cap gibah sama pembaca yang gagal faham. Inipun sebenernya sudah mendekati gibah, namun penulis niatkan ini hanya berbagi cerita.

Dan ternyata setelah penulis amati kemampuan beliau tentang ilmu agama maupun pengetahuan lainnya belum begitu luas wawasannya, (bukan berarti penulis merendahkan dan penulis merasa luas ilmu pengetahuan nya awas jangan gagal faham). Walaupun penulis lihat ada hal yang menunjukkan kecerdasan dalam dirinya yaitu banyak ayat-ayat Qur’an surat pendek yang banyak di hafalnya dan beliau paman, penulis amati dalam keluarga kandungnya mungkin paling mending atau pintar di antara yang lainnya. Kalau dari keluarga sepupu ibuk penulis memang banyak yang pintar karena mereka mayoritas berpendidikan tinggi dan orang yang berkecukupan.

Beliau/paman sih mengatakan bahwa nenek penulis masih ada kerabat/saudara dari gus maksum kediri, dan beliau muridnya katanya hehe, ya mungkin bisa jadi kerabat lewat mimpi hehe. Penulis agak senyum dikit dan meng iyakan, singkat cerita penulis sanggah gus maksum/kh abdullah maksum jauhari/pendiri pagar nusa/pendekar penumpas pki, beliau itu guru kebidahan dan kemusrikan yang tersegani di jawa timur ketika itu.

Red- Namun penulis liat beliau menang condong banyak menutup diri, tidak ada rasa ingin tau, (bisa penulis liat dari segi bahasa nadanya dan motto/prinsipnya maupun misinya). Dan juga Bisa di liat dari segi berikut ini:

1. Tidak hobi membaca ntah via berbagai buku. (Hanya buku tertentu yang beliau baca), Tidak pernah membaca qur’an ples terjemahannya. Ataupun Membaca melalui lainnya..

2. Tidak hobi mendengar ceramah-ceramah dari berbagai pemahaman/tidak punya rasa ingin tau. Merasa dirinya sudah pintar dan luas pengetahuannya. Bukan tidak hobi lagi tapi bahkan tidak pernah, padahal mendengar ceramah dari berbagai pemahaman ntah itu via dari berbagai radio dakwah, dari berbagai tv dakwah atau dari Yutube, semua itu akan menambah pengetahuan dan wawasan kita dan juga mendengar Murattal ples terjemahannya ini juga akan mebambah pengetahuan kita.

3. Belum punya HP android masih menggunakan hape jadul itupun sms tidak bisa/telaten. Tidak punya android Ini akan ketinggalan informasi untuk di akhir jaman sekarang , karena melalui hp android akan banyak pengetahuan dan wawasan yang di dapat bagi penggunanya bila di gunakan dalam hal yang positip. Namun beliau sudah penulis sarankan untuk membeli android. Penulis sampaikan kepada beliau disana kita bisa membaca buku/kitab ulama dari berbagai riwayat yang sudah di kemas dalam aplikasi.

4. Mereka tidak tau persis membedakan mana yang haram dan mana yang halal, malah nanya saya kalau di jakarta sering nonton dangdut ya wi.. Karena dirinya kalau nonton tv sukanya dangdut dan kalau di kampung-kampung acara tanggapan hiburan dangdut biasanya masih sangat populer, dan masih banyak lagi tandanya yang tidak bisa saya ungkapkan/publikasikan.

Dan pastikan di kampung anda jika ada yang ngaku kiay, ust, dai dan sejenisnya namun tidak punya kriteria seperti yang penulis sampaikan itu, pastikan suruh banyak belajar lagi jangan menutup diri merasa mampu dan merasa sudah pintar seperti penulis ceritakan tersebut. Penulis yakin di daerah anda banyak orang-orang yang di anggap ustad seperti yang penulis ceritakan tersebut.

Maap tulisan ini hanya sekedar kritikan dan sekalian untuk memotivasi bagi anda yang condong menutup diri atau yang terlalu menutup diri supaya banyak menggali ilmu pengetahuan atau belajar. Ustad yang cerdas lulusan sarjanah S3/S2 saja, yang hafal Alqur’an ples terjemahannya dan hafal dari berbagai hadits dan kitab para buatan ulama terdahulu saja mereka selalu belajar dan belajar, apa lagi kita yang awam harus lebih giat belajar. Jangan merasa sudah pintar, namun pengetahuan dan wawasan hanya sebatas taqlid buta dan fanatik buta bin katanya-katanya.

Maap tulisan ini tidak dalam rangka (menggibah/sejenisnya), tujuan penulis mengkritik ini biar tidak nambah banyak orang yang hanya cuma ngandalin taqlid buta dan fanatik buta atau katanya-katanya, semoga ada di antara kalian yang membuka diri untuk menerina nasihat ini. Penulis juga sambil memperbaiki diri supaya tidak lain di bibir dan lain di hati. Mari kita perbaiki diri bersama-sama. Dan sekali lagi saya mohon maap jika cerita/tulisan ini bernada gibah, namun sedikitpun dalam hati penulis tidak ada niat menggibah, mungkin jika pembaca terlihat bernada gibah tulisan ini, mungkin keterbatasan penulis dalam menguasai kata-kata dan dalam pengaturan kata-kata. Dan penulispun menyadari bahwa semua apa yang kita tulis akan di mintai pertanggung jawaban oleh Allah Subhana Wataala.

Jangan lupa baca nasihat saya yang ini juga: KLIK DISINI

comments

tags: