12 Rabiul Awwal 1440 H

Apakah semua hadits ada ayatnya.

Kategori Kritikan
Di lihat 230 kali

Hits: 42

Apakah semua hadits ada ayatnya.
Oleh: DWIWAP.COM

Ada sebuah komen yang penulis temukan di salah satu akun pengguna facebook. Penulis ingin sedikit menyanggahnya walaupun faham itu hanya di gunakan orang-orang tertentu mungkin bisa di kataka sedikit ingkar sunnah, sebenernya pemahaman dari salah satu komen tersebut benar. Namun sipenulis salah dalam memahaminya.

Komennya tersebut berbunyi seperti ini:
1. Jauhi Hadits yang tidak ada ayatnya dari Qur’an.
2. Jauhilah tafsir yang tidak di terbitkan badan hukum, kementrian agama dan majelis ulama.

Penulis ingin sedikit menyanggah/meluruskan komen yang nomor satu dulu. Yaitu jauhi hadits yang tidak ada ayatnya: Faham ini mau mencoba mengembangkan faham ustad kodiran salim dalam menamai hadits yang dianggap sahih oleh ulama terdahulu, beliau Ustad Kodiran salim menyebutnya hadits yang berwahyu maksutnya bersumber dari alqur’an. sedangkan ulama terdahulu menyebutnya hadits yang sahih artinya mungkin hadist yang benar/kuat.

Dan ustad Kodiran Salim ini beliau salah seorang pengasuh mualaf dan beliau seorang kristolog dan peneliti independen. SPenulis juga hampir banyak yang sependapat dengan pelajaran-pelajaran yang beliau sampaikan melalui facebook dan penulis juga banyak belajar dengan beliau melalui  tulisan-tulisan beliau di facebook.

Namun ada juga penulis yang tidak sependapat dengan pendapat-pendapat beliau dan sempet penulis kritik namun berakhir dengan buruk karena akun fb penulis di blokir oleh beliau. Tapi walaupun penulis di blokir penulis tidak ada rasa kesal sedikitpun, karena salut dengan pemikiran-pemikiran beliau yang mungkin bisa di bilang sangat langka di tengah-tengah mayoritas umat islam yang kebanyakan taqlid buta, dan pemikiran-pemikiran beliau juga banyak yang sepaham dengan saya, namun bedanya salah satunya yaitu beliau masih mengakui seperti halnya mayoritas umat islam lainnya. Yang meyakini bahwa golongan seperti Nu, Muhamadiyah, Mui dan sejenisnya itu organisasi atau wadah atau sejenisnya dan beliau sendiru ustad kodiran seorang pengikut golongan muhamadiyah tulen. Sedangkan saya secara tegas menginkari dan penulis katakan semua itu golongan seperti yang di sebutkan dalam qur’an. Yaitu setiap golongan merasa bangga…dan seterusnya.

Sudah satu tahun ini penulis tidak berhubungan dengan beliau melalui fb maupun wa maupun telpon. Penulis berusaha menghubungi namun tidak ada respon. Padahal saya dengan beliau sudah terikat janji bahwa saya akan membeli buku-buku puluhan karya beliau. Namun saya denger-denger beliau sedang sakit, penulis ingin sekali menjenguk namun wa/sms/telpon tidak di respon ya penulis tidak enak jika main nylonong aja bertamu, nanti sampai di tempat suruh pulang lagi gimana. hehe

Selain kristolog beliau ustad kodiran, penulis juga mengagumi ustad/ulama tercerdas ahli kristolog dan perbandingan agama di dunia saat ini yaitu Ustad Dr Zakir Naik. Bahkan kecerdasan dan kejeniusan Dr zakir penulis anggap lebih tinggi di banding ulama-ulama terdahulu seperti imam Mazab dan lainnya. Beliau juga pendapatnya ada yang penulis kritik. Namun bukan berarti penulis sombong merasa paling benar dan sok pinter dan membanggakan diri, justru penulis banyak belajar dari mereka. Ilmu penulis ibarat seujung kuku mereka belum tentu ada.

Penulis lanjut, namun komen yang penulis ingin kritik tersebut tidak nyambung alias tidak relevan karena menurut pemahaman yang Insyaallah lebih kuat, tidak semua hadits itu ada ayatnya dari alquran. Yang ada juga hadits yang bersumber dari Alqur’an atau seperti yang di ucapkan ustad kodiran yaitu hadits yang berwahyu. Bersumber berarti hadits tersebut atau perkataan yang di sampaikan Rosul tersebut mengambil dari petunjuk Alqur’an.

Berikut ini penulis ingin memberi sedikit contoh hadits yang ada ayatnya dalam alqur’an. Sebagai mana yang di maksut oleh si pembuat komen yang di maksut diatas. Namun itu lebih releven di sebut hadits yang senada dan bersumber dari Alqur’an bukan hadits yang tidak ada ayatnya dari Alqur’an. Pernyataan tersebut kurang tepat.

Contoh:
Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak (HR. Muslim). Hadist tersebut senada dengan QS yang artinya sebagai berikut:
Aku tidak akan mengikuti kecuali petunjuk al-Qur’an yang diwahyukan kepadaku, berisi argumentasi-argumentasi yang menjelaskan kepada kalian sisi-sisi kebenaran. Dia yang memberi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang mengamalkan ajarannya.

Namun ada juga hadits-hadits yang tidak senada/tidak ada ayatnya dalam Alqur’an. Ketika kita menghadapi hadits yang tidak senada dengan Qur’an dan tidak ada ayatnya, namun penulis yakin hadits tersebut bersumber dari Qur’an, dan namun jika hadits tersebut tidak ada ayatnya. namun tidak bertabrakan dengan Alqur’an. Tapi ada hal yang mengganjal di hati kita. Berarti masih ada yang harus kita pertanyakan di diri kita, maka kedepankan pernyataan ini: Salahkan akal diri kita? salahkan diri kita dalam memahaminya?.

Doktrin diri kita, alqur’an itu benar, hadits itu benar, Rasul itu benar. Namun hadits sudah pasti ada cacatnya karena hasil hafalan dari kumpulan dari masa ke masa, namun selagi hadits tersebut tidak bertabrakan boleh di amalkan, namun jika bertabrakan maka utamakan qur’an. Jangan seperti mayoritas umat islam mengamalkan hadits-hadist yang bertabrakan dengan Alqur’an. Biasanya ini di populerkan Oleh Ahli bid’ah terutama dari golongan Nu dan golongan lainnya yang mengklaim adanya bid’ah hasanah.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bohong. Beliau as-Shadiq (orang yang benar) dan al-Mashduq (wajib dibenarkan). Sikap kita terhadap hadits yang dianggap ulama terdahulu sahih/benar, yang di maksut sahih oleh ulama terdahulu adalah hadits yang bersumber dari Qur’an, dan senada dengan Qur’an namun jika tidak senada dengan Qur’an dan tidak ada ayat namun tidak bertabrakan maka kita Husnudzan (berprasangka baik) kepada hadits, Kecuali hadits tersebut bertabrakan dengan qur’an Boleh Suudzan bahwa Hadits tersebut mungkin sudah terplintir. Wallahu Alm.

Dan untuk sanggahan yang nomor dua yaitu: jauhilah tafsir yang tidak di terbitkan badan hukum, kementrian agama dan majelis ulama:

Yang dimaksut beliau sepertinya dan sangat mungkin yaitu suruh nenjauhi tafsir sendiri, dan menyuruh mengikuti tafsir mayoritas. Berarti beliau secara tidak langsung mengajak, menggiring, mengikuti faham mayoritas manusia. Bukankan Allah dalam Alqur’an telah tegas melarang mengikuti mayoritas manusia/umat islam?

Penulis hanya ingin menjelaskan sedikit untuk kata majelis ulama, siapa yang di maksut majelis ulama?
Majelis ulama yang di maksut adalah Mui, singkatan dari Majelis ulama indonesia, siapa Mui ini? Mui adalah ketua golongan terbaru dalam islam dan Mui ini dalam kuasa penuh golongan Nu.

Semua umat islam mayoritas sependapat mengatakan mereka itu bukan golongan tapi organisasi atau wadah bahkan umat islam yang minoritas seperti yang di sebut Salafi pun mengatakan itu wadah/organisasi. Tidak seoranpun umat islam saat ini yang berani memvonis itu golongan. Padahal telah jelas dalam qur’an Allah menyebut semua itu golongan.

Nu adalah golongan terbaru urutan kedua setelah Muhamadiyah, Golongan Nu ini sebenernya yang paling menyesatkan namun tiada ketara, namun ironisnya mereka mengklaim paling benar, inilah pembodohan yang nyata terjadi yang salah di anggap benar namun yang benar di anggap salah. Siapa yang benar di anggap salah yaitu yang minoritas. Siapa minoritas mungkin yang biasa mereka sebut wahabi atau salafi atau mungkin golongan mta. Namun saya cukup muslim.

Setelah Nu tercipta lagi golongan-golongan baru namun semua itu pemahamannya mayoritas sama yaitu mengklaim adanya bidah hasanah. Bedanya golongan Nu dengan golongan lainnnya hanya berbeda dalam masalah hal yang di tekuni, contoh gol majelis Azzikra yang di ketui ustad Aripin mereka condong ke zikir bersama, padahal zikir bersama dengan mengeraskan suara tidak ada contohnya dari Rosul, golongan Fpi yang di ketuai habib riziq mereka condong terjun menumpas kemaksiatan di jalan-jalan dan sejenisnya.

Namun oleh orang-orang mayoritas yang taqlid buta, golongan tersebut mereka sebut wadah/organisasi, dalam Qur’an alasan apapun tetap saja di sebut golongan, pendiri golongan musrik dan pemecah belah agama, setiap golongan merasa bangga dengan pemahamannya masing-masing. Ini terbukti.

Dan mengenai ikuti mayoritas juga dalam Qur’an di jelaskan:
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). QS.al-An’am/6: 116.

Ayat Allah ini nyata dan terbukti bahwa mayoritas manusia mengikut kebanyakan orang kenyataan nya memang di sesatkan namun tiada mereka sadari. Karena manusia cenderung condong mengikuti dan meniru tanpa melihat dasar dan alasannya seorang ulama atau ahli hukum terdahulu membuat fatwa akhirnya membuat mereka jadi taqlid buta dan fanatik buta. Dan sebagian Jika masyarakatnya senang dengan kemusrikan dan kebid’ahan, maka iapun juga mengikutinya berbondong-bondong seperti pelaku kuburiyun dan sejenisnya. Wallahu alm.

Fatwa: Dwiwap.com

comments

tags: